Anak Gadisnya Dirudapaksa 2 Pria, Bapak Ini Menangis Ceritakan tak Ada Lembaga yang Mendampingi

ilustrasi-perkosaan-2020

TOSKOMI.COM II BENER MERIAH -
Seorang remaja di Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah, mengalami trauma atau gangguan psikologi setelah diduga menjadi korban rudapaksa dua pria.

Kasus tersebut terjadi di Lapangan Pacuan Kuda Sengeda Kampung Karang Rejo, Kecamatan Bukit pada 30 Juni 2020 lalu.

Pelaku merupakan dua orang lelaki yang kini sedang dalam proses hukum di Mahkamah Syariah Bener Meriah.

Berdasarkan keterangan ayah korban, Rabu (9/9/2020) akibat kejadian itu anaknya mengalami trauma dan enggan bergaul dengan teman sebayanya.

Bahkan ia tidak berani lagi pergi ke sekolah karena merasa malu.

Trauma itu bukan hanya dialami oleh korban saja, tapi ibunya juga mengalami trauma yang mendalam, sehingga ketika ada kendaraan yang berhenti tepat di depan rumahnya, ia langsung ketakutan hingga menyuruh lampu rumah dimatikan.

“Karena dihantui rasa ketakutan, istri saya juga sering meminta untuk pindah rumah,” ujarnya.

Sambil menangis, ayah korban menceritakan, kronologis awal kejadian yang menimpa anak gadisnya itu.

Bermula pada, Sabtu 30 Juni 2020, sekira waktu zuhur, anaknya berpamitan pergi ke rumah temannya dan ia juga sempat berpesan agar tidak pulang sore hari.

Namun hingga sore hari, anaknya belum kunjung pulang.

Ketika waktu malam setelah magrib anaknya pulang diantar oleh temannya.

“Malam itu, anak saya tidak berani masuk dalam rumah kendati temanya sudah masuk. Saat saya tanya kenapa anak saya terdiam lalu temannya menjawab bahwa anak bapak sudah dirudapaksa oleh dua orang laki-laki,” beber ayah korban.

Mengetahui anaknya telah dinodai, dirinya langsung memanggil pihak keluarga dan melaporkan kepada Reje Kampung.

Keesokan harinya, keluarga korban didampingi Reje Kampung melaporkan kasus tersebut ke pihak Polsek Wih Pesam dan melakukan visum ke Puskesmas Pante Raya.

Selanjutnya, pihak Polsek menyarankan kasus tersebut dilaporkan ke Polres Bener Meriah.

Ayah korban juga mengaku terkait kasus ini tidak ada pendampingan dari lembaga perlindungan anak dan perempuan, yang sebelumnya sempat ada pengakuan dari perwakilan sebuah lembaga untuk mendampingi kasus ini.

Akan tetapi hingga persidangan kedua berjalan di Mahkamah Syariah Bener Meriah, tidak ada lembaga yang mendampingi kasus anaknya selain dari aparatur kampung.

Dirinya juga berharap terhadap pelaku dijatuhi kuhuman seberat-beratnya, karena korban dan keluarganya mengalami dampak sosial seumur hidup.

Sementara itu, Ketua DPD II Barisan Pemuda Nusantara (BAPERA) Bener Meriah, Aramiko Aritonang, S Sos menyampaikan, terkait banyaknya kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur yang terjadi di Kabupaten Bener Meriah harus menjadi perhatian serius bagi semua pihak.
Menurutnya, ada dua kasus pemerkosaan anak di bawah umur dengan pelaku yang sama dan saat ini sedang dalam proses persidangan di pengadilan Mahkamah Syariah Kabupaten Bener Meriah.

“Kami berharap kepada Kepolisian Polres Bener Meriah agar setiap kasus pelecehan dan pemerkosaan anak di bawah umur untuk harus diberitakan ke media,” pinta Aramiko.

Kata, Aramiko, hal ini perlu dilakukan agar memberi efek jera kepada pelaku maupun kepada calon pelaku yang masih memiliki niat yang sama untuk melakukan kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur.

Ia mengharapkan, kepada pihak kepolisian juga harus menerangkan ke publik bahwa ancaman hukuman bagi para predator kejahatan seksual anak di bawah umur ini sangat berat.

"Penting sekali ini dilakukan oleh aparat penegak hukum baik kepolisian, Kejaksaan maupun Pengadilan," tuturnya.

“Lantaran sudah banyak kasus ini terjadi di Bener Meriah namun hampir nyaris sepi pemberitaan sehingga publik tidak mengetahui,” timpalnya.

Lanjutnya, ketika kasus ini banyak diketahui oleh publik, maka banyak orang tua lebih waspada menjaga anak-anaknya.

“Kami lakukan semata mata hanya untuk menekan angka kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur di Kabupaten Bener Meriah,” sebutnya.

Dirinya juga berharap kepada Pemkab Bener Meriah dan jajaran paling bawah di desa, agar mensosialisasikan tentang kejahatan ini sehingga setia orang tua lebih waspada untuk melindungi anaknya dari predator kejahatan seksual.

“Satu hal lagi, kami minta kepada pihak Kejaksaan dan Pengadilan (Hakim) agar kasus kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur ini dikenakan sanksi hukum positif jangan hukum cambuk karena bila hukum cambuk sama sekali tidak memberikan efek jera,” tegasnya.

(serambinews)

Komentar

Loading...