Ingin Menikah Di Tengah Pandemi, Ini Surat Edaran Menteri Agama Pada Saat Di Laksanaknnya New Normal

IMG-20200605-WA0000

TOSKOMI.COM |I Aceh Tengah- Menteri Agama Republik Indonesia, Fachrul Razi, mengeluarkan regulasi baru melalui surat edaran untuk kegiatan akad nikah dan perkawinan untuk menyambut penerapan new normal yang akan segera di berlakukan di indonesia.

Surat Edaran (SE) Menteri Agama Nomor 15 Tahun 2020 tentang Panduan Penyelenggaraan Kegiatan Keagamaan di rumah ibadah dalam mewujudkan masyarakat produktif dan aman covid di masa pandemi

Adapun ketentuan tersebut sebagai berikut :

  1. Rumah ibadah yang dibenarkan untuk menyelenggarakan kegiatan
    berjamaah/kolektif adalah yang berdasarkan fakta lapangan serta angka
    R-Naught/RO dan angka Effectiue Reproduction NumberlRt, berada di
    Kawasan/llngkungan yang aman dari Covid- 19.

Hal itu ditunjukkan dengan Surat Keterangan Rumah Ibadah Aman Covid dari Ketua Gugus Tugas Provinsi/ Kabupaten/ Kota/ Kecamatan sesuai tingkatan rumah ibadah dimaksud, setelah berkoordinasi dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah setempat bersama Majelis-majelis Agama dan instansi terkait di daerah masing-masing. Surat Keterangan akan dicabut bila
dalam perkembangannya timbul kasus penularan di lingkungan rumah
ibadah tersebut atau ditemukan ketidaktaatan terhadap protokol yang
telah ditetapkan.

  1. Pengurus rumah ibadah mengajukan permohonan surat keterangan
    bahwa kawasan/ lingkungan rumah ibadahnya aman dari Covid-19 secara
    berjenjang kepada Ketua Gugus Kecamatan/ Kabupaten/Kota/Provinsi sesuai tingkatan rumah ibadahnya.
  2. Rumah ibadah yang berkapasitas daya tampung besar dan mayoritas
    jemaah atau penggunanya dari luar kawasan / lingkungannya, dapat
    mengajukan surat keteranglrn aman Covid-19 langsung kepada pimpinan
    daerah sesuai tingkatan rumah ibadah tersebut.
  3. Kewajiban pengurus atau penanggungiawab rumah ibadah:
    a. Menyiapkan petugas untuk melakukan dan mengawasi penerapan
    protokol kesehatan di area rumah ibadah;

b. Melakukan pembersihan dan desinfeksi secara berkala di area rumah
ibadah;

c. Membatasi jumlah pintu/jalur keluar masuk rumah ibadah guna
memudahkan pen€rapan dan pengawasan protokol kesehatan;

d. Menyediakan fasilitas cuci tangan/ sabunlhrznd sanitiz,er di pintu
masuk dan pintu keluar rumah ibadah;

e. Menyediakan alat pengecekan suhu di pintu masuk bagi seluruh
pengguna rumah ibadah. Jika ditemukan pengguna rumah ibadah
dengan suhu > 37,5'C (2 kali pemeriksaan dengan jarak 5 menit), tidak
diperkenankan memasuki area rumah ibadah;

f. Menerapkan pembatasan jarak dengan memberikan tanda khusus di
lantai/kursi, minimal jarak l meter;

g. Melakukan pengaturan jumlah jemaah/pengguna rumah ibadah yang
berkumpul dalam waktu bersamaan, untuk memudahkan pembatasan
jaga jarak;

h. Mempersingkat waktu pelaksanaan ibadah tanpa mengurangi
ketentuan kesempurnaan beribadah;

i. Memasang imbauan penerapan protokol kesehatan di area rumah
ibadah pada tempat-tempat yang mudah terlihat;

j. Membuat surat pernyataan kesiapan menerapkan protokol kesehatan
yang telah ditentukan; dan

k. Memberlakukan penerapan protokol kesehatan secara khusus bagi
jemaah tamu yang datang dari luar lingkungan rumah ibadah.

  1. Kewajiban masyarakat yang akan melaksanakan ibadah di rumah ibadah:
    a. Jemaah dalam kondisi sehat;

b. Meyakini bahwa rumah ibadah yang digunakan telah memiliki Surat
Keterangan aman Covid-19 dari pihak yang berwenang;

c. Menggunakan masker/ masker wajah sejak keluar rumah dan selama
berada di area rumah ibadah:

d. Menjaga kebersihan tangan dengan sering mencuci tangan
menggunakan sabun atau ttand sanitizerl

e. Menghindari kontak fisik, seperti bersalaman atau berpelukan;

f. Menjaga jarak antar jemaah minimal 1 (satu) meter;

g. Menghindari berdiam lama di rumah ibadah atau berkumpul di area
rumah ibadah, selain untuk kepentingan ibadah yang wajib;

h. Melarang beribadah di rumah ibadah bagi anak-anak dan warga lanjut
usia yang rentan tertular penyakit, serta orang dengan sakit bawaan
yang berisiko tinggi terhadap Covid-19;

i. Ikut peduli terhadap penerapan pelaksanaan protokol kesehatan di
rumah ibadah sesuai dengan ketentuan.

  1. Penerapan fungsi sosial rumah ibadah meliputi kegiatan pertemuan
    masyarakat di rumah ibadah (misalnya: akad pernikahan/ perkawinan),
    tetap mengacu pada ketentuan di atas dengan tambahan ketentuan
    sebagai berikut:

a. Memastikan semua peserta yang hadir dalam kondisi sehat dan negatif
Covid-19:
b. Membatasi jumlah peserta yang hadir maksimal 2O% {dua puluh
persen) dari kapasitas ruang dan tidak boleh lebih dari 30 orang; dan
c. Pertemuan dilaksanakan dengan waktu seefisien mungkin.

Demikian isi Surat Edaran Menteri Agama Republik Indonesia untuk kemudian di gunakan sebagai pedoman melaksanakan kegiatan akad nikah dan pernikahan dirumah ibadah selama pandemi covid-19.

Sementara itu kepala kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Tengah, Drs H Amrun Saleh saat di mintai keterangan oleh toskomi.com menghimbau kepada semua masyarkat untuk mematuhi himbauan menteri agama tersebut, dan tetap menerapkan protokol kesehatan, tetap tenang dalam beraktifitas dan menjalankan ibadah penuh ikhlas ungkapnya. (Satria)

Komentar

Loading...