Dirjen Otda Kemendagri Turun Tangan Tekait Konflik Bupati Vs Wakil Bupati Aceh Tengah

Akmal-Malik-Plt-Dirjen-Otonomi-Daerah-Kemendagri-Dok-Kemendagri (1)

TOSKOMI.COM || JAKARTA – Hawa politik di Aceh Tengah menghangat. Duet pemimpin Shabela-Firdaus dilanda konflik. Bupati Shabela mengatakan bahwa wakilnya itu mengancam akan membunuh dan melakukan kekerasan terhadapnya.

Shabela menuturkan, pada Rabu (13/5) sekitar pukul 21.15 WIB dirinya menerima sejumlah tamu di rumah dinas. ”Tiba-tiba dari arah depan Firdaus datang. Dan dari luar sudah mengeluarkan kalimat tidak pantas terhadap saya,” katanya.

Firdaus yang datang bersama beberapa orang itu menanyakan masalah proyek. Merasa tidak aman, Shabela memilih bertahan di dalam rumah. Dia berniat melaporkan masalah tersebut ke polisi.

Sementara itu, Firdaus mengatakan bahwa tindakannya tersebut spontan. Selama ini dia merasa posisinya sebagai wakil bupati kurang dihargai. ”Sadarilah, dia (Shabela) jadi bupati karena ada wakil, mungkin enggak dia calon jadi bupati tanpa ada wakil, kan tidak bisa,” kata Firdaus kemarin (15/5).

Kejadian itu, kata Firdaus, merupakan puncak kekesalannya terhadap Shabela. Soal proyek, menurut dia, hanya pencetus. ”Ini sebenarnya telah terakumulasi sejak lama, pencetusnya saja tiba-tiba,” ujar Firdaus.

Proyek yang dimaksud Firdaus adalah pengerjaan di sejumlah instansi. Di antaranya, dinas kesehatan dan RSUD Datu Beru dengan total sekitar Rp 17 miliar. Menurut Firdaus, keretakan dirinya dan Shabela telah berlangsung lama. Dia mengaku tidak pernah dilibatkan dan tidak mengetahui kebijakan bupati, termasuk soal mutasi.

”Memang bisa saja itu kewenangan bupati, tapi yang sebenarnya menurut aturan ada musyawarah dahulu,” ucapnya.

Selain itu, kata Firdaus, semestinya mereka saling bertukar pikiran saat membicarakan anggaran

”Tapi, saya tidak tahu sama sekali karena tidak dilibatkan, masak satu atap, sama-sama berkorban, sama-sama berjuang, ketika berhasil, ditinggalkan,” kata Firdaus.

Selama tidak ada perubahan, menurut Firdaus, hubungannya dengan Shabela tetap akan bermasalah. Dia mau saja berdamai asalkan ke depan lebih dilibatkan dalam menjalankan roda pemerintahan. ”Sama siapa saja maunya baik kan tidak ingin cari permusuhan. Cuma kalau tetap seperti selama ini, kan kejadian lagi,” katanya.

Terkait rencana Shabela melapor ke polisi, Firdaus mempersilakan hal tersebut. ”Laporkan saja. Saya juga ada bahan. Terserah dia,” ujar Firdaus.

Sementara itu, Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Akmal Malik Piliang mengatakan, pihaknya masih mencari tahu pokok persoalan yang mengakibatkan konflik antara bupati Aceh Tengah dengan wakilnya. Lantaran hal itu sensitif, dia ingin mempelajari dulu sebelum berkomentar.

”Saya belum mau berkomentar. Kalau belum tahu terus komentar, malah salah,” ujar dia kepada Jawa Pos.

Akmal menjelaskan, karena kasusnya di level kabupaten, penanganan masih dilakukan pemerintah provinsi. Hingga tadi malam, dia mengaku masih menunggu penjelasan dari Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh Nova Iriansyah. ”Pak Gubernur belum membalas WA saya ini,” imbuhnya. (JawaPos)

Komentar

Loading...