Kebencian Melampaui Kemanusiaan

IMG-20200430-WA0001

Oleh : Alkautsar (Pendiri Gerakan Anti Bullying)

Sudah berbulan-bulan pandemi Covid-19 menyebar di Indonesia. Setiap hari korban terus ada dan berlipat ganda.

Akibatnya banyak kerugian yang dialami oleh negara dan warga negara-Berbagai instruksi dan kebijakan dikeluarkan oleh pemerintah untuk memutus transmisi dan melawan covid-19.

Situasi ini merangsang nurani kemanusiaan individu, golongan ataupun kelompok untuk bergotong royong terhadap negara maupun sesama warga Negara-Mereka yang mampu secara ekonomi membantu mereka yang tidak mampu.

Semua itu terbentuk dikarenakan hanya satu hal yaitu kemanusiaan, Kepentingan kemanusiaan sukses meminggirkan kepentingan individu, golongan ataupun kelompok-Hal ini tidak mengecualikan perbedaan pandangan, pilihan ataupun dukungan politik. Keberadaan covid-19 mengkonstruksi moral warga negara untuk berpartisipasi dalam melawannya.

Semua konstruksi pertautan moral terhadap negara maupun sesama warga negara yang terbentuk, diinterupsi oleh seseorang yang amoral.

Denny Siregar (DS) seorang yang berada dalam lingkaran kekuasaan (Istana) mencemoh seorang anak perempuan dibawah umur-Almira Tunggadewi Yudoyono yang disapa Aira, menjadi sasaran kebenciaan DS.

Ini bermula ketika AHY mengunggah di akun IGnya tentang buah hatinya yang diberikan tugas sekolah dalam bentuk pidato berbahasa inggris.(soal ini silakan lihat diakun IG AHY).

Anak ketua Umum Partai Demokrat (PD) Agus Harimurti Yudoyono (AHY) yang tidak pernah dilibatkan dalam politik praktis, dikapitalisasi oleh DS untuk memenuhi syahwat politiknya demi membangun citranya terhadap istana.

Tindakan DS jelas merupakan sabotase dan mengarah tindak kekerasan terhadap anak perempuan. Ini jelas tidak etis dilakukan oleh seorang yang dekat dengan istana, apalagi dimasa sulit seperti ini.

Kalau memang DS memandang unggahan AHY mempunyai implikasi politis, itu jelas keliru. Karena selama masa pandemi ini, AHY sebagai ketua Umum PD menggerakkan semua struktur partai demokrat untuk peduli dan berbagi kepada rakyat Indonesia.

Artinya AHY hanya focus pada maksimalisasi penanganan covid-19. Seharusnya DS menjadikan PD sebagai role model bagi pemerintah, bukan malah mengkapitalisasinya.

Kalau mau ditelisik, AHY hanya menjalankan tugasnya sebagai ayah plus guru kepada anaknya selama masa pembelajaran daring. Saya yakin, tindakan yang dilakukan oleh AHY dilakukan juga oleh orang tua lainnya.

Tujuannya pun pasti sama yaitu untuk memastikan terciptanya generasi bangsa yang unggul demi masa depan bangsa dan negara.

Cuitan DS tidak hanya melukai AHY dan keluarga, tetapi melukai seluruh bapak /ibu dan anak-anak Indonesia. Tindakan sembrononya menambah beban psikis, terutama bagi Ibu dan anaknya.

Perlakuan yang mengarah bullying, apalagi kepada anak perempuan dibawah umur tidak bisa ditoleransi. Praktek bullying dapat mengakibatkan trauma, depresi bahkan yang pailing esktrim sampai bunuh diri terhadap korban. Ini harus dilawan bersama ! Bukan tidak mungkin, besok keluarga bapak/ibu akan menjadi korban kriminalisasi kekuasaan. Masih ingat dengan pelajar lutfhi ?

DS yang sering mendaku diri pancasilais, ternyata dalam praksis kehidupannya tidak mencerminkan nilai-nilai pancasila.

Potret kelakuan DS merupakan cerminan dari kejamnya kekuasaan. Bahwa apapun itu, sesuatu yang berasal dari luar kekuasaan, yang tidak mengancam sekalipun, harus mereka hancurkan. Mereka tidak peduli dengan kemanusiaan ataupun masa depan bangsa.

Asalkan kepentingannya tetap berjalan utuh. Contoh kongkritnya yaitu Omnibus law.

(Rill)

Komentar

Loading...