(BAGIAN 2) NASIB BELA DI UJUNG JARI JEMARI “MATINYA HATI PENGHUNI PENDOPO”

PhotoGrid_1566886319068

TOSKOMI.COM || TAKENGON - Hakikat kematian adalah tertutupnya hati dari kepedulian sosial yang semakin jauh dari berinteraksi dengan orang-orang miskin. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari orang yang telah dibutakan mata hatinya. Mereka hanya membuat sesak jalanan dan mengotori udara bersih dengan bau nafas kematiannya.

Betapa tidak, tidak jauh dari Pendopo I dan II, di Kampung Gunung Balohen, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah, seorang single parent, Ibu Susiliani, berjualan ikan depik keliling untuk menghidupi tiga anaknya. Miris! mereka masih tinggal di tenda plastik warna biru. Beruntung mereka masih tinggal di tanah warisan orang tuanya sehingga tidak perlu menyewa tanah untuk tinggal.

Ikan depik itu yang endemik di Danau Lut Tawar itu bersifat musiman. Tidak selalu ada! Kalau dikomulatifkan pendapatan Ibu Susiliani per bulannya hanya Rp. 800 ribu. Itupun Rp. 400 ribu harus dikirim kepada anaknya yang sedang nyantri di Pulau Jawa. Keluarga miskin ini memanfaatkan Rp. 400 ribu sisanya selama sebulan untuk bertahan hidup.

Tidak cukup waktu dan biaya untuk memikirkan membangun rumah. Ibu Susiliani dipacu oleh waktu untuk memenuhi kebutuhan makan dan sekolah anaknya. Meskipun mereka tidur beralaskan tanah, tapi mereka tidak mengeluh. Beruntung sebuah organisasi sosial, Forum Silaturrahmi Gayo Bersatu (Forgab) menginisiasi bantuan berupa seng 40 lembar, papan 80 keping dan kayu balok untuk tiang 40 buah. Inisiatif Forgab ini sedikit meringankan beban Ibu Susiliani.

Keluarga Ibu Susiliani adalah satu dari sekian ratus keluarga miskin di Aceh Tengah yang perlu kehadiran negara untuk memberdayakan kehidupannya yang dalam hal ini bupati adalah refresentasi dari negara. Artinya bupati beserta jajarannya harus bertanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan dasar rakyatnya, yaitu sandang, papan dan pangan (pakaian, rumah dan makanan).

Ironis memang! Dari Pendopo I dan II terparkir mobil mewah terbaru Toyota Land Cruiser Prado dan mobil Alphard yang harganya di atas Rp. 2 Milyar. Andai mereka punya “sense of social” tentu lebih memikirkan nasib rakyatnya yang masih banyak miskin daripada harus membeli mobil mewah. Ternyata “cakap tak serupa bikin” untuk mengelabui rakyat sebelumnya dengan pernyataan, “Saya tidak perlu mobil dinas baru, dengan grek pun kami akan kerja.”

Andai mereka punya hati atau hatinya tidak mati, maka mereka akan menolak membeli mobil mewah itu serta uang seharga dua mobil itu atau Rp. 4 milyar itu bisa membangun 40 rumah layak huni untuk orang-orang yang tidak punya rumah. Begitulah akibat matinya hati akan diikuti hilangnya rasa malu. Sehingga kemana-mana tidak ada lagi rasa malu mengendarai mobil mewah di depan tatapan mata orang-orang miskin yang belum tentu makan pada hari ini.

Apakah prilaku membeli dan mempamerkan mobil mewah, sementara masih banyak orang miskin di lingkungannya termasuk “perbuatan zalim”? Entahlah, yang kita tahu bahwa kalau kita punya dua rumah sementara tetangga kita tidak punya rumah lalu membiarkannya, itu termasuk perbuatan zalim. Apalagi mereka merupakan perwakilan negara yang diberi tugas mengurusi rakyatnya yang miskin, lalu tidak melaksanaknnya, pejabat seperti mereka pantas dicap subversif dan dikenakan pasal karet.

Kenapa bisa? Pembiaran sebuah keluarga miskin, sehingga anak-anak mereka tidak bisa bersekolah dan setelah dewasa menjadi pengangguran yang akibat lanjutnya bisa terjerumus kepada perbuatan kriminal yang meresahkan ketertiban umum. Dalam kasus seperti ini maka yang disalahkan adalah penguasa yang punya kewajiban memberdayakan rakyat miskin.

Tentu saja Ibu Susiliani tidak pernah berharap hidupnya serba kekurangan, akan tetapi “kehadirannya” adalah petunjuk dan pelajaran kepada kita semua sebagai alat ukur, apakah hati kita masih hidup, atau memang sudah mati seperti yang dipertontonkan penguasa sekarang. Dan saya tegaskan, rapor Bela soal kepedulian terhadap rakyat miskin “nol besar.”

Fauzan Azima
(Mendale, 27 Agustus 2019)

Komentar

Loading...