Staf Panwaslih Aceh Tengah Diputus DKPP Melanggar Kode Etik

C71D4FF1-41EB-4DB2-8514-DA73DF428230

TOSKOMI.COM|| Jakarta (31/7/2019)– Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu menjatuhkan Sanksi etik terhadap Staf Panwaslih Aceh Tengah, Murnizam berupa tidak memenuhi syarat sebagai penyelenggara pemilu dimasa yang akan datang.

Pembacaan Putusan Nomor 97-PKE-DKPP/V/2019 di Ruang Sidang DKPP, lantai 5, Jalan MH Thamrin No. 14,  Jakarta Pusat pada Rabu (31/7/2019) pukul 13.00 WIB dan dibacakan majelis DKPP Prof. Muhammad, S.IP, M.Si, Dr. Ida Budhisti, SH., MH dan Prof. Dr. Teguh Prasetyo, SH., M.Si.

Majelis menilai Murnizam terbukti secara sah dan meyakinkan telah Murnizam bersama enam orang lainnya diduga telah melakukan input data C1 Hasil Penghitungan Suara DPR, DPD, DPR Aceh dan DPRK Aceh Tengah pada tanggal 20 April 2019 di kamar pondok wisata, Desa Paya Tumpi Satu, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah.

Walaupun tindakan tersebut tidak memenuhi unsur Pidana, namun Majelis menilai bahwa tindakan tersebut melanggar azaz mandiri penyelenggara pemilu karena aktivitasnya bersama Hamidah dalam rangka menginput C1 yang diduga dipesan oleh penyelenggara pemilu sebagai bahan untuk sengketa. Sedangkan data C1 diperoleh Hamidah dari Panwaslih Kecamatan dengan cara membayar uang potocopi.

Pada pemeriksaan sebelumnya, pengadu mendalilkan bahwa Teradu pada tanggal 19 sampai dengan 20 April 2019 ijin tidak masuk kantor. Ijin tersebut disampaikan Teradu kepada Koordinator Sekretariat Panwaslih Kab. Aceh Tengah Laila Adami.

Namun, sidang pemeriksaan ini tidak dihadiri oleh Murnizam dikarenakan tidak memiliki biaya untuk hadir ke kantor KIP Provinsi Aceh. Meskipun demikian Teradu memberikan jawaban tertulisnya melalui whatsapp. Dalam jawaban tertulisnya, ia membantah dalil pengaduan para Pengadu.

Murnizam dalam jawaban tertulisnya, menjelaskan bahwa dirinya berada di lokasi input C1 tersebut karena diajak oleh Hamidah yang sudah dianggapnya sebagai orang tua kandungnya sendiri. Ia mengaku selama tidak masuk kantor, dirinya tinggal di rumah Hamidah yang dianggapnya sebagai ibu kandungnya.

Lebih lanjut, Murnizam juga menjelaskan tidak pulang kerumah orang tua kandungnya karena rumahnya jauh dan dia sedang sakit.

Selanjutnya, dalam keterangan tertulis Teradu juga, ia mengaku tidak mengetahui asal dari C1. Pada tanggal 20 April 2019 ia berada di sana karena dimintai bantuan oleh Hamidah untuk memilah C1 seusai sarapan di Paya Tumpi.

Alasan Murnizam yang tidak dapat hadir dalam persidangan karena biaya, dinilai Pengadu berbeda dengan status FB Teradu yang sedang berada di luar kota. [Ys]

Komentar

Loading...