Ulasan Singkat Kopi Arabika Gayo

kopi gayo arabika

TOSKOMI.COM || Arabica Gayo merupakan salah satu varietas kopi terbaik dunia. Mulai dari aroma hingga cita rasanya yang luar biasa, telah diakui oleh penikmat kopi tak hanya di negeri sendiri, namun juga hingga ke luar negeri.

Kopi jenis Arabica dibudidayakan di wilayah dataran tinggi Tanah Gayo, Aceh Tenggara, dan Gayo Lues. Kopi Arabica agak besar dan berwarna hijau gelap, daunnya berbentuk oval, dengan tinggi pohon mencapai tujuh meter. Namun di perkebunan kopi, tinggi pohon ini dijaga agar berkisar 2-3 meter. Tujuannya agar mudah saat dipanen.

Pohon kopi Arabica mulai memproduksi buah pertamanya dalam tiga tahun. Lazimnya dahan tumbuh dari batang dengan panjang sekitar 15 sentimeter. Dedaunan yang diatas lebih muda warnanya karena sinar matahari, sedangkan dibawahnya lebih gelap. Tiap batang menampung 10-15 rangkaian bunga kecil yang akan menjadi buah kopi.

Lalu, dari mana asal usul kopi di daratan tinggi Gayo?

Legenda kopi dalam catatan sejarah mengemukakan kopi ditemukan oleh Sheikh Omar, seorang tabib yang memiliki kemampuan menyembuhkan penyakit. Karena kelebihan yang dimilikinya, Sheik diasingkan ke sebuah gua padang pasir dekat Ousab.

Dia lalu mencari makanan dari tumbuhan-tumbuhan liar yang tumbuh sekitar gua, dan menemukan pohon berbiji merah dan mengunyahnya. Namun, rasanya pahit tidak seperti warnanya yang merah dan terkesan manis.

Lantaran penasaran, Sheik mencoba memanggang biji tersebut dan menjadi
keras. Masih penasaran, dia kemudian mengambil biji yang terpanggang keras
berwarna hitam, melunakkan dengan mendidihkannya ke dalam air panas. Ternyata,
setelah melunak biji dan kopi menyatu menjadi cairan coklet berwarna harum.

Setelah meminumnya, Sheikh merasakan sensasi dan pengaruh yang berbeda.
Ramuan biji kopi yang telah direbus tersebut juga sanggup menyembuhkan penyakit
misterius Putri Raja Mochas.

Tumbuhan kopi ini tersebar di Indonesia pertama kali oleh orang Belanda di
abad 17 yang mendapatkan biji Arabica Mocca dari Arab Saudi, kemudian dibawa ke
Batavia yang saat ini adalah Jakarta. Pertama kalinya kopi Arabica tersebut
ditanam serta dikembangkan di wilayah Jatinegara, Jakarta yang saat ini sudah
dikenal masyarakat luas sebagai Pondok Kopi.

Penyebaran selanjutnya sampai di kawasan dataran tinggi Gayo serta di
kabupaten Aceh Tengah.
Kekuasaan Belanda yang hadir pada tahun 1904 di Tanah Gayo sekaligus memberikan
kehidupan baru yaitu dengan membuka lahan perkebunan kebun kopi yang terdapat
di tanah Gayo di ketinggian 1000 – 1700 meter dari permukaan laut.

Pada tahun 1925 hingga 1930, sejarah baru mulai dibuka yaitu adanya kebun
kopi di lingkungan masyarakat. Pembukaan kebun kopi tersebut dilakukan oleh
para petani yang kebetulan bertetangga dengan kebun Belanda tersebut. Hingga
pada tahun 1930 terdapat empat kampung yang sudah berdiri di sekitar kebun
Belanda tersebut yang kini terletak di Belang Gele yaitu Kampung Belang Gele,
Paya Sawi, Atu Gajah dan juga Pantan Peseng. (Tribunnews)

Terdapat bukti arkeologis berupa sisa pabrik pengeringan kopi yang sudah ada
pada masa kolonial Belanda di Aceh
Tengah yaitu tepatnya di desa Wih Porak kecamatan Silih Nara. Hal itu
menjelaskan bahwa kopi pada masa tersebut sudah menjadi komoditas perekonomian
yang sangat penting.

Kini, kopi
Arabica Gayo
sudah menjadi mata pencaharian yang paling pokok oleh sebagain
besar masyarakat Gayo. Bahkan, sudah menjadi satu-satunya sentra tanaman kopi
yang sangat berkualitas di daerah Aceh
Tengah.

Salah satu perusahaan di Indonesia yang mengolah kopi Arabica Gayo adalah Tiara Farm. Perusahaan ini mengolah di Desa Umah Besi, Kecamatan Timang gajah, Kabupaten Bener Meriah, Gayo – Aceh. Tiara Farm menanam kopi di lahan seluas 20 hektar (ha) pada posisi di atas 1.000 meter dari permukaan laut, lalu diproses secara modern dan higienis sehingga dapat dipastikan terbebas dari bakteri dan jamur. (Tribunnews)

Komentar

Loading...