Pria “Misterius” Obok-Obok Dunia Pendidikan Di Aceh Tengah

PicsArt_03-29-10.41.45

Oleh : Fauzan Azima*

TOSKOMI.COM | Takengon (29/03) Dalam menjalankan tugasnya, Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah untuk memperbaiki akhlak manusia dengan mempertimbangkan perasaan, sehingga beliau menerima pangkat “Rasulullah” atau rasa bersama Allah.

Alangkah eloknya jika perasaan dijadikan salah satu dasar menggeser-geser kedudukan pejabat, terutama dalam dunia pendidikan yang menjadi kewenangan Pemkab Aceh Tengah, yaitu SD dan SMP yang seharusnya tidak menyerahkan perkara penting ini kepada seorang pria misterius.

Sebenarnya pria ini tidak terlalu misterius karena kita tahu namanya Syaifullah atau biasa tetangganya di Lorong I, Non Perumnas Kebayakan memanggilnya dengan bahasa yang kurang sopan, “Ipul” seorang pensiunan PNS Kabupaten Bener Meriah.

Tentu saja “Mr. Ipul” bukan pemain tunggal, dia mendapat kuasa penuh dari Pemerintahan Shafda (Shabela-Firfaus) untuk menggeser-geser atau tepatnya mengobok-obok pendidikan di Aceh Tengah dengan memindahkan, bahkan menjadikan guru biasa para kepala SD dan SMP sesuka hatinya dengan tidak mempertimbangkan perasaan.

Apa salah dan dosa Kepala SDN di Kampung Asir-Asir Kecamatan Lut Tawar dipaksa menjadi guru biasa di SDN di Kampung Dedalu Kecamatan Lut Tawar. Nasib yang sama juga dialami oleh Kepala SD Toweren dan SMP Pegasing menjadi guru biasa di sekolah yang dibinanya dengan susah payah.

Kasus yang sama menyebar ke seluruh pelosok Aceh Tengah, sampai para guru dan kepala sekolah berencana melakukan aksi mogok mengajar tetapi karena menjaga perasaan murid atau siswa serta orang tuanya, akhirnya mereka hanya berdelegasi ke Kantor Bupati. Sayangnya kehalusan budi dan perasaan para guru dan kepala sekolah tersebut disambut oleh bupati dengan sumpah serapah.

Bagi Mr. Ipul tugasnya selesai dan tentu bangga telah menyelesaikan tugas mulia dari pimpinan, tetapi sadarkah mereka atas tindakan yang tidak berperasaan itu menyebabkan efek domina yang tidak baik terhadap dunia pendidikan karena guru dan kepala sekolah telah kehilangan semangat mengajar dan membina pendidikan yang akibat lanjutnya adalah akan lahir generasi bodoh di Aceh Tengah. Sebab itulah Rizal Hadi tidak pernah bosan mengingatkan kita, “Jangan main-main dengan pendidikan, Bung!” (LintasGayo.co)

(Mendale, 28 Maret 2019)

Komentar

Loading...