Tinta Dijari Boleh Hilang Tapi Tidak Untuk Janji

88B0B49F-D007-4CCD-BCFA-0D628D6048C6

TOSKOMI.COM|| Editorial (28/6/2018)- Pesta demokrasi Pimilukada seretak 2018 berakhir. 152 Juta pimilih menanti KPU melakukan tugasnya melakukan tahapan penghitungan suara.

Walaupun pengumuman resmi dari KPU belum keluar, namun rakyat telah diberi gambaran tentang siapa yang menang sebagai Gubernur, Bupati dan Walikota terpilih.

Tentunya rakyat tidak boleh larut dalam hiporia kemenangan karena halikatnya berdemokrasi tidak hanya berada di bilik-bilik suara.

Namun dibalik itu ada kewajiban memastikan janji-janji politik tetap berjalan sebagaimana mestinya. Itulah demokrasi sesungguhnya.

Jawa Barat misalnya, Ridwan Kamil berjanji akan membangun manajmen resapan air bagian utara Kota Bandung.Khofifah Indar Parawangsa akan mengembangkan ekonomi di selaran provinsi Jawa Timur, Janji Jendral (Purn) Edy Rahmayadi akan mengurangi angka kemiskinan di Sumatra Utara dan misalnya Wayan Koster berjanji akan melakukan penolakan di teluk Benoa di Bali harus di tagih sejak hari pertama mereka menjabat.

Wajib bersyukur atas angerah kemenangan itu boleh, namun bentuk syukur yang lebih afdol adalah dengan melakukan pengawalan terhadap janji-janji itu yang lebih penting.

Pihak yang kalah juga harus lebih legowo dengan hasil resmi nanti, jangan membiasakan diri terkotak-kotak hanya karena pilihan politik berbeda. Hilangkan perasaan berbeda usai mencoblos karena tinta di jari juga sudah memudar. [Az]

Komentar

Loading...