2 Pasien RSU Datu Beru Terindentifikasi Difteri

087DBF3E-92FB-4443-95AB-8A611B43191F

TOSKOMI.COM|| Takengon (13/1/2017) Penyakit difteri tengah mewabah dan menjadi sorotan. Pasalnya, banyak daerah di Indonesia telah melaporkan kasus ini. Bahkan pemerintah lewat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menetapkan hal ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

Satu Warga Aceh Tengah juga diporkan telah terkena dampak Penyakit tersebut. Direktur Rumah Sakit Umum Datu Beru, dr Hardi Yanis saat dikonfirmasi Toskomi.com membenarkan informasi tersebut.

“Bukan hanya satu, malah saat ini sudah dua pasien yang terinfeksi bakteri tersebut” Ujar Hardi Yanis.

Lebih lanjut menurut Hardi Yanis, kedua pasien tersebut adalah anak kini masih dirawat di rumah sakit Datu Beru.

“Kondisi Pasien kini telah membaik namun harus dirawat intensif” Tambah Hardi.

Hardi juga mengaku telah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait seperti Dinas Kesehatan Aceh Tengah dan Juga Dinkes Provinsi. Hal ini dilakukan agar wabah ini tidak menular secara masif.

Hardi menghimbau untuk kepada masyarakat untuk melakukan imunisasi di pukesmas-pukemas terdekat tidak terinfeksi bakteri yang menular melalui udara dan minuman tersebut.

Dilain kesempatan, Kepala Dinas Kesehatan Aceh Tengah, dr Sukri Maha saat dikonfirmasi menjelaskan pihaknya telah melaksanakan penanganan sesuai Protap.

Kata Sukri Maha saat dirinya melaporkan kasus tersebut (6/1/2018) melaporkan ke Dinkes provinsi. Dihari yang sama pihaknya melaksakan Perintah melakukan penelitian kerumah pasien tersebut. Serta memberikan Anti Biotik kepada keluarga terdekat sebanyak 7 orang dan pasien yang bersangkutan.

Setelah itu katanya, Tim dinkes provinsi turun ke Takengon guna mengambil lendir dan hidung dan tenggirokan sebayak 30 orang terangga terdekat pasien (8/1/2018) guna Culture pembiakan untuk memastikan apakah kasus tersebut difteri atau bukan.

Sesuai petunjuk dari Dinkes Provinsi dan Kementeian Kesehatan lanjut Sukri Maha, Pihaknya mulai melakukan pendataan Pandataan balita 7 tahun ORI (Outbreak Response Immunization) atau imunisasi tambahan ke Kecamatan yang bersangkutan untuk membasmi wabah tersebut. Dan saat ini juga di Pukesmas yang menjadi domisili yang bersangkutan dilakukan imunisasi secara masif.

Namun Sukri Maha enggan menyebutkan kecamatan mana yang karena nantinya berpotensi mengganggu sikologis dari pasien.

Dugaan sementara, Pasien terjangkit bukan di Aceh Tengah. Ketika dilakukan pendalaman, pasien sempat keluar kota saat liburan tahun baru dan berinteraksi dengan orang banyak. Kecurigaan tersebut muncul karena sesuai petunjuk kesehatan, penyakit tersebut bereaksi sejak 3 sampai dengan 5 hari sejak terjangkit.

Sukri Maha berharap agar seluruh masyarakat untuk kooperarif dengan Dinas Kesehatan dan pukesmas-pukesmas terdekat untuk melakukan penanganan wabah Difentri tersebut. Agar ruang gerak mempersempit ruang gerak wabah ini. (Z.80)

Komentar

Loading...