BKSDA Tuding Sudah 40 Gajah Mati Di Karang Ampar

IMG-20170723-WA0005

TOSKOMI.COM|| Takengon (23/7/2017) – Menurut pernyataan Kepala Seksi Konservasi Wilayah Lhokseumawe BKSDA Aceh, Dedi Irvan, saat ini sudah lebih dari 40 (empat puluh) ekor gajah di wilayah Ampar Aceh Tengah yang mati. hal itu disampaikan Dedi pada media Liputanaceh.com saat melakukan penyelidikan terhadap kematian seekor gajah yang diperkirakan berumur 40 tahun. Sabtu 22 Juli 2017.

Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh yang datang ke lokasi kematian gajah bersama aparat kepolisian dari Polres Aceh Tengah, guna melakukan pemeriksaan terkait sebab kematian gajah jantan yang diperkirakan sudah mati sejaka 20 hari lalu itu.

Amatan Toskomi.com di lokasi, kepolisian dan tim otopsi BKSDA Aceh melakukan penyidikan terhadap bangkai gajah yang juga membawa alat metal detektor (pendeteksi logam - red) untuk mendeteksi kemungkinan ada serpihan logam dari peluru yang masih bersarang di bangkai gajah tersebut.

Tim BKSDA Aceh juga mengambil sampel dari bangkai gajah untuk dilakukan tes laboratorium guna mengetahui dan memastikan penyebab kematian gajah itu di tembak atau diracuni. Tim otopsi juga menemukan kejanggalan karena melihat ada lubang kecil di tengkorak bagian kepala gajah tersebut.

“Perkiraan kita gajah ini mati sekitar 20 hari atau hampir satu bulan lalu. Awalnya kita mendapat laporan dari warga Karang Ampar, lalu kita cek ke lokasi sekarang, sepertinya kita melihat ada semacam dugaan ditembak. Hari ini kita lakukan otopsi apakah ditembak atau karena hal lain. Namun untuk memastikan apakah gajah ini di tembak atau bukan, kita akan bawa bagian tubuh gajah ini ke pos labor di Jakarta. Gajah ini diperkirakan berumur 40 tahun dengan jenis kelamin jantan.

Konflik gajah juga sering terjadi di wilayah Aceh Tengah, yaitu di Desa Karang Ampar Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, namun warga dan pemerintahan sudah membuat parit pembatas antara hutan dan perkebunan warga meskipun belum juga selesai karena diprediksi akan selesai pada 2018 mendatang.

“Ini perkebunan masyarakat, perkebunan coklat, pinang, kopi dan durian. Intinya disini memang lintasan gajah beberapa bulan kebelakang, namun beberapa bulaln kebelakang kami telah dibantu pembuatan parit gajah ada sekitar 400 meter dengan lebar 4 kali 5 meter agar tidak ada lagi gajah yang melintas, dan kita akan sambung lagi pembuatan parit gajah ini guna mengantisipasi konflik gajah dengan Manusia,” jelasnya.

Lalu apabila benar dugaan tim BKSDA kematian gajah tersebut ditembak, lalu siapakah oknum pemburu gajah tersebut? Apakah Okum Polisi, TNI, Eks Kombatan GAM, Mantan Milisi, atau Sindikat Pemburu Gajah? Kita nantikan perkembanganya.(Rahmad/Z.80)

Komentar

Loading...