4 Keluarga Dengan Status Sangat Miskin Di Kampung Mongal

Bukti Pak Nas Gagal Menghalau Kemiskinan

Potret Kemiskinan Aceh Tengah

TOSKOMI.COM|| Takengon (11/7/2017) – Sebanyak 4 Keluarga Miskin yang tercatat bertempat tingal di Kampung Mongal Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah mengeluh tidak diperhatikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tengah.

Keempat Kepala  Keluarga tersebut diantaranya  Nurdin, Mulyani, Suandi dan Anas Wibowo terletak di tengah-tengah kebun kopi di Dusun I kampung tersebut.

Keempat keluarga tersebut tinggal berbataskan dinding satu sama lain. Mereka tinggal di Rumah tidak layak huni dengan ukuran paling besar 4x4 Meter persegi.

Dirumah yang sempit tersebutlah Mirda hidup dengan suami dan 4 orang anaknya. Ruang yang sempit tersebut juga mau tidak mau harus dimanfaatkan untuk Dapur, tempat tidur, serta barang-barang mereka.

Bahkan untuk membuang air besar Keempat keluarga tersebut harus melakukan “sistem darurat” dengan cara mengali lubang lalu kemudian ditimbun. Hal itu juga mereka lakukan di Kebun milik orang lain yang kebetulan berada di belakang rumah mereka.

Mirda (32) yang merupakan istri dari Nurdin menceritakan kondisi yang mereka rasakan selama bertahun-tahun di tempat tersebut.

Awalnya saat Gempa Gayo terjadi, Rumah yang biasa dirinya dan suami beserta akan mereka tempati hancur diruntuhkan gempa, dirinya dan suami membangun “gubuk” tersebut ditanah warisan Ibunya.

Ditanah itulah mereka tinggal dengan dinding yang terbuat dari potongan Senk, potongan triplek, dan bahan-bawan sisa bangunan.

Sedangkan atap rumah Mirda berbahan yang berkombinasi antara Senk dan terpal plastik. Bahkan apabila hujan turun, atapnya akan bocor.

Jelas pemandangan tersebut tidak akan dirasakan oleh Bupati Aceh Tengah yang biasa tidur di Pendopo yang megah atau dirumah pribadi yang dibangun dengan uang millyaran tersebut.

Tidak hanya itu, bahkan rumah mirda juga tidak dialiri listrik, sehingga sulit untuk membayangkan betapa pedihnya penderitaan Mirda dan tetangganya tersebut.

Ini adalah potret bagaimana masyarakat Aceh Tengah berjuang untuk mendapatkan kesejahteraan, Namun sayangnya Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah masih saja berlomba-lomba menghabiskan anggaran untuk sesuatu hal yang tidak penting .

Aktivis Kecam “Jalan Jalan” Pejabat Aceh Tengah Ke Hungaria

 

Kesulitan ekonomi Mirna disebabkan minimnya pendapatan Suami dan Dirinya. Suami Mirna yang hanya seorang tukang becak berkisar antara 60 ribu sampai dengan 80 ribu perhari, pendapatan tersebut harus dipotong Bensin, Uang Makan dan juga tabungan untuk membayar keredit Becak tersebut sebesar Rp. 900.000 Perbulan selama 22 Bulan.

Terkadang keredit tidak bisa mereka bayar sehingga acap kali berurusan dengan depcolektor. Sedang dirinya bekerja sebagai penyortir kopi yang hanya dibayar sebanyak Rp. 600 rupiah perkilogram oleh Koprasi BQ Baburrayyan.

Melihat kondisi ini seperti membantah pencitraan yang dilakukan oleh Baitul Mall Kabupaten Aceh Tengah yang seorah-oleh sudah membantu seluruh orang-orang miskin, orang yang terlilit hutang di Kabupaten Aceh Tengah. Padahal anggaran yang dikelola oleh Baitul Mal tidak pernah kurang dari 17 Milyar

Dan Publik harus mengakui bahwa Visi bupati Aceh Tengah “Terwujudnya Kemakmuran dan Terhalaunya Kemiskinan Menuju Masyarakat Aceh Tengah Sejahtera pada Tahun 2017” telah gagal dicapai Pak Nas dan jajaranya. (Z.80/SD.16/D.23/Pangeran)

Komentar

Loading...