Pandangan Ilmu Psikologi Mengenai Prilaku Korupsi

IMG_5355

TOSKOMI.COM || Aceh Tengah (11/6)

Di tulis oleh: Winda Pransiska Oktapiani Isti

Ilmu psikologi merupakan suatu ilmu yang berfokus untuk mempelajari prilaku manusia. Ilmu psikologi sendiri memiliki beberapa mahzhab atau aliran yang maisng-masing mahzhab ini berdiri berdasarkan penelitian ilmiah yang telah dilakuakn berpuluh-puluh tahun lamanya, sehingga bisa membentuk suatu teori yang digunakan dalam ilmu psikologi untuk mengkaji dinamika psikologis seseorang.

Dua mazhab besar yang sangat populer dikalangan ilmu psikologi adalah psikoanalisa dan behavioris di mana kedua mazhab atau aliran psikologi ini memiliki cara pandang yang berbeda mengenai mengapa seseorang dapat berperilaku tertentu.

Menurut pandangan ilmu psikologi setiap perilaku manusia tentunya dilandasi oleh motif atau sebab-sebab tertentu yang melandasi mengapa seseorang menimbulkan perilaku tersebut, baik perilaku yang sifatnya positif maupun negatif.

Pada pembahasan kali ini penulis akan memaparkan mengenai perilaku korupsi yang di lihat berdasarkan pandangan psikologi dengan mengunakan sudut pandang psikoanalisa dan behavioris.

Sebelumya korupsi itu sendiri secara sederhana dapat kita artikan sebagai suatu perbuatan yang sudah pasti menimbulkan kerugian pada orang lain, sedangkan dalam ranah pemerintahan sudah tentu yang akan dirugikan adalah masyarakat karena hal ini bisa mengancam serta menghambat kesejahteraan masyarakat.

Huntington (1968) mendefinisikan korupsi sebagai “behavior of public officials which deviates from accepted norms in order to serve private ends”. Yang dapat diartikan sebagai. Korupsi merupakan suatu perilaku yang menyimpang dari norma-norma yang diteriama dan dianut oleh masyarakat dengan tujuan untuk mendapatkan keutungan pribadi yang dilakukan oleh pegawai publik.

secara psikologis untuk menjelakan mengapa seseorang bisa melakuakn perbuatan korupsi dapat dijelaskan dengan pandangan psikoanalisa yang dikemukakan oleh Sigmund Freud, aliran ini berpendapat bahwa perilaku korupsi yang dilakukan oleh seseorang berkaitan erat dengan masa lalunya atau masa kecilnya di mana hal inilah yang membentuk trait atau kepribadian seseorang sehingga memberikan pengaruh dalam ia berprilaku pada saat dewasa.

Menurut pandangan psikoanalisa ada 5 tahapan perkembangan pada masa kecil yang akan dilewati oleh semua orang, dan apa bila saat melewati tahapan-tahan perkembangan ini mengalami permasalahan, maka hal inilah yang memberikan pengaruh negatif terhadap pembentukan kepribadian seseorang sehingga memungkinkan seseorang untuk berprilaku negatif pada masa dewasanya. Kelima tahapan perkembangan itu ialah:
1. Tahap Oral, usia 0 - 3 tahun, pada tahapan perkembangan ini pusat kenikmatan seorang anak terletak pada bagian mulutnya, sehingga tak jarang kita menyaksikan anak- anak pada masa in isering memasukan apapun kedalam mulutnya dan suka mengisap jempolnya, apabila tahapan ini tidak terlewatkan dengan baik maka akan berpotensi menimbulkan permasalahan yang berkaitan dengan permasalahan oral atau kejahatan berbicara ketika dewasa kelak.
2. Tahapan Anal, adalah tahapan dimana kebanyakan anak melaluinya dengan pelatihan mengunakan kamar mandi atau toilet training, pada masa ini anak-anak akan membentuk atau melatih rasa percaya kepada lingkungan sekitarnya, dan jika pada tahapan perkembangan ini anak gagal melaluinya dnegan baik maka anak akan cenderung mengalami permasalahan dengan kepercayaan.
3. Tahapan Phallis, usia 8 – 10 tahun. Pada tahapan perkembangan ini pusat kenikmatan anak terletak pada alat kelaminya, dan hubungan kedekatan dengan orang tua. Salah satu dampak terhambatannya atau terjadi masalah pada masa tahapan ini akan menimbulkan permasalahan prilaku seksual.
4. Tahapan Laten, pada tahapan ini pusat kenikmatan atau kesenagan anak terletak pada teman sebaya, kebanyakan anak pada masa ini sudah memasuki usia sekolah sehingga pada masa ini interaksi anak dengan lingkungan mualai terbentuk lebih luas. Permasalahan perkembangan pada masa ini memungkinan anak memiliki penyimpanag sosial dalam berinteraksi dan berprilaku negatif terhadap respon lingkungan.
5. Tahapan genital, ini merupakan tahapan akir dari perkembangan seorang anak, pada masa ini anak memasuki usia dewasa dan pusat kenikmatan atau kesenagan seorang anak terletak di luar dirinya dan di luar lingkungan keluarga, bisa saja kesenagan itu berada pada lawan jenis maupun lingkungan sekitar. Permasalahan pada masa ini akan mempengaruhi interaksi sosial anak baik dalam hal pribadi, serta sosialnya.

Lantas apa yang menyebabkan seseorang melakukan prilaku korupsi di masa dewasanya???
Secara psikoanalisa dapat dijelaskan, karena ia memiliki permasalahan perkembangan pada tahapan-tahapan perkembangan psikososial yang telah dikemukan di atas, untuk melihat tahapan mana yang lebih dominan membentuk perilaku korupsi atau negatif pada dirinya perlu dilakaukan telaah yang lebih mendalam lagi pada mereka yang melakukan tindakan korupsi.

Pendapat yang berbeda mengenai perilaku korupsi disampaikan oleh pandangan aliran Behavioris. Aliran ini merupakan suatau aliran dalam ilmu psikologi yang telah melakukan banyak percobaan ilmiah mengenai terbentunya perilaku pada seseorang. Dan menurut pandangan behavioris yang menjadi penyebab utama seseorang melakukan prilaku korupsi ialah disebabkan oleh lingkungan yang memberikan dorongan pada mereka sehingga seseorang bisa melakukan tindakan kurupsi.

Dalam hal ini lingkungan lah yang berperan sangat aktif untuk memunculkan perilaku korupsi tersebut. Baik yang sifatnya pemakluman atas tindakan korupsi, hukuman yang tidak memberikan efek jera bagi pelaku korupsi, dan juga adanya kesempatan yang tersedia untuk melakukan tindakan korupsi tersebut.

Apapun alasannya, korupsi tetaplah suatu perbuatan yang salah dan merugikan orang lain. Dan korupsi juga bukan merupakan tindakan yang tepat yang dilakuakan dalam kehidupan bermasyarakat. Para pemimpin yang cerdas memiliki jiwa yang cerdas pula sehingga mereka tidak merugikan rakyatnya.

Para pelaku korupsi secara psikologis adalah orang-orang yang belum berhasil menyelesaikan permasalahan tahapan perkembangannya dengan baik, jadi tak salah jika kita mengibaratkan koruptor sebagai “Anak kecil yang ada dalam tubuh orang dewasa, dimana ia memiliki badan yang besar namun jiwanya kerdil. (Rel)

Komentar

Loading...