Para petempur ISIS dari Indonesia, Malaysia, Singapura dan dari negara lainnya tewas di Marawi.

Kehadiran Petempur Asing Semakin Mempersulit Konflik di Filipina Selatan

IMG_5226

TOSKOMI.COM || Filipina (8/6) Pemerintah Asia Tenggara belum bisa memastikan jumlah kombatan asing yang ada di Filipina selatan, setahun setelah para pemimpin kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mendesak para pengikutnya yang tidak bisa pergi ke Suriah untuk bergabung ke Mindanao.

Pasukan Filipina telah memerangi kelompok bersenjata Abu Sayyaf Group (ASG) yang didukung oleh militan Maute yang menguasai kota Marawi, yang berpenduduk 200.000 orang.

Laporan mengatakan bahwa lebih dari 120 militan dari Filipina dan negara lainnya, termasuk Indonesia, Malaysia, Singapura, Chechnya, Saudi, Arabia, dan Yemen, telah tewas sejak pertempuran dimulai pada 23 Mei lalu.

Berbicara di Singapura pada hari Minggu, Menteri Pertahanan Indonesia, Ryamizard Ryacudu, menyebut para militan itu sebagai mesin pembunuh.

"Saya diberitahu tadi malam, ada 1.200 ISIS di Filipina, sekitar 40 dari Indonesia," kata Ryacudu.

Menanggapi komentar Ryacudu pada Dialog Shangri-La, forum keamanan regional tahunan yang diselenggarakan oleh Singapura, Wakil Menteri Pertahanan Filipina, Ricardo David, mengatakan bahwa dia tidak mengetahui tentang informasi jumlah tersebut.

"Saya benar-benar tidak tahu, angka saya sekitar 250 sampai 400, jauh lebih sedikit," katanya kepada wartawan di acara tersebut.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengumumkan darurat militer di wilayah tersebut yang menandai pertama kalinya kelompok-kelompok terkait ISIS mengklaim wilayah di luar Suriah dan Irak.

“Pengepungan kelompok (ISIS) baru-baru ini di Kota Marawi membuktikan potensi mereka untuk mengubah Mindanao menjadi wilayat (provinsi) ISIS bagi militan Asia Tenggara," kata Kementerian Dalam Negeri Singapura dalam sebuah laporan analisa ancaman terorisme di Asia Tenggara yang dirilis bulan ini.

Marawi ‘pengubah permainan’

Sidney Jones, direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) di Jakarta, mengatakan usaha rekrutmen telah berfokus pada peningkatan kekuatan ISIS di Filipina.

"Yang jelas adalah bahwa untuk tahun lalu, telah terjadi perintah melalui Telegram dari orang-orang Indonesia di Suriah dan dari pendukung ISIS di Indonesia, bahwa Filipina adalah tempat yang harus didatangi. Karena semakin sulit untuk menyeberangi perbatasan Turki ke Suriah. Pesan di media sosial berubah dari “bergabunglah dengan kami di Suriah,” menjadi “cari pertempuran yang lebih dekat dengan tempat tinggalmu,” kata Sidney kepada BeritaBenar.

“Sangat ironis, sementara pemerintah Barat seperti AS dan Australia melihat bahaya terbesar adalah dari pejuang asing yang datang dari Suriah dan Irak ke Filipina, sebenarnya ancaman yang lebih besar adalah dari calon pejuang di kawasan ini yang tidak pernah menginjakkan kaki di Timur Tengah," tambahnya.

Pada bulan Juni 2016, ISIS merilis sebuah video propaganda yang memperlihatkan seorang Filipina, seorang Indonesia, dan seorang Malaysia muncul bersama memerintahkan umat Islam untuk berperang di Suriah atau di Filipina.

"Jika Anda tidak bisa pergi ke [Suriah], bergabunglah dan pergi ke Filipina," kata tokoh ISIS Malaysia, Rafi Udin, dalam video berdurasi 20 menit tersebut.

Dia juga mendesak para pendukung ISIS di negara mereka masing-masing untuk menggunakan cara apapun untuk membunuh non-Muslim dan orang-orang yang tidak beriman "di manapun kalian bertemu mereka". Ketiga pria tersebut melakukan apa yang tampaknya sebagai pemenggalan kepala tiga orang tawanan yang berlutut di depan mereka, dengan tangan terikat mengenakan jumpsuit oranye.

Rommel Banlaoi, pimpinan di Institut Filipina untuk Penelitian Perdamaian, Kekerasan dan Terorisme yang berbasis di Manila, mengatakan bahwa pemerintah perlu meningkatkan usaha mereka melawan kelompok-kelompok teror.

"Situasi Marawi adalah pengubah permainan dalam upaya kontra-pemberontakan dan kontra-terorisme di Filipina. Pertarungan di Marawi telah menunjukkan hubungan kompleks dari perlawanan kelompok lokal bersenjata dan terorisme internasional," katanya kepada BeritaBenar.

"Akibat krisis Marawi tidak akan secara otomatis mengakhiri konflik bersenjata karena kelompok ancaman yang menghadapi pasukan pemerintah memiliki kemampuan yang kuat untuk berevolusi dan beradaptasi dengan situasi saat ini dan yang sedang berkembang."

Malaysia, Indonesia melacak para kombatan

Kepala polisi Malaysia mengatakan sejumlah warga Malaysia berada di Filipina selatan.

"Berdasarkan intelijen dan berita, ada lima warga Malaysia di kota Marawi. Tiga tewas dan saat ini kami sedang memastikan jumlah orang Malaysia di Marawi," Inspektur Jenderal Polisi Khalid Abu Bakar mengatakan kepada BeritaBenar.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen. Pol. Setyo Wasisto, menyebutkan dari data yang berhasil dikumpulkan pihaknya, terdapat 38 WNI yang berada di Filipina Selatan sejak setahun terakhir.

“Empat orang telah tewas di Marawi dan 22 orang masih berada di Filipina Selatan. Kita belum mengetahui kondisi mereka,” katanya kepada BeritaBenar, Jumat, 2 Juni 2017.

Namun, Setyo tak menjelaskan identitas keempat WNI yang tewas dalam pertempuran di Marawi, dan mengatakan belasan WNI lainnya menunggu untuk dideportasi ke Indonesia setelah ditangkap pemeritah Filipina.

Analis terorisme dan mantan pemimpin Jamaah Islamiyah Nasir Abbas mengatakan jumlah orang Indonesia yang terlibat di Filipina kemungkinan lebih tinggi dari proyeksi pemerintah.

“Saya kira jumlahnya bisa lebih dari delapan puluh orang. Karena memang sejak dulu merupakan pusat pelatihan militer Asia Tenggara,” ujarnya kepada BeritaBenar.

"Saya kira jumlahnya bisa lebih dari 80 orang karena Filipina selatan selalu menjadi pusat pelatihan militer di Asia Tenggara," katanya kepada BenarNews. " Sejak dulu juga kelompok-kelompok radikal di Indonesia punya hubungan dekat dengan kelompok di Filipina,” katanya.

Pandangan sejalan juga disampaikan oleh Al Chaidar, pakar terorisme dari Universitas Malikul Saleh di Lhoksemawe, Aceh, yang yakin jumlah WNI di Filipina Selatan mencapai ratusan.

Mereka termasuk anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso, yang terdesak sehingga melarikan diri ke Filipina, setelah pemimpin mereka tewas ditembak dalam Operasi Tinombala, pada 18 Juli 2016, di Poso, Sulawesi Tengah.

“Bisa jadi mereka yang bergabung dengan Maute adalah anggota Santoso. Sel-sel yang mendukung ISIS di Indonesia punya hubungan dekat dengan teroris Filipina,” ujarnya saat dihubungi.

Rommel Banlaoi, kepala Lembaga Penelitian Institut Filipina untuk Penelitian Perdamaian, Kekerasan dan Terorisme yang berbasis di Manila, mengatakan bahwa pemerintah perlu melakukan kemajuan dalam usaha mereka melawan kelompok-kelompok teror.

"Situasi Marawi adalah pengubah permainan dalam upaya kontra-pemberontakan dan kontra-terorisme di Filipina. Pertarungan di Marawi telah menunjukkan hubungan kompleks dari perlawanan kelompok lokal bersenjata dan terorisme internasional," katanya kepada BeritaBenar.

"Akibat krisis Marawi tidak akan secara otomatis mengakhiri konflik bersenjata karena kelompok ancaman yang menghadapi pasukan pemerintah memiliki kemampuan yang kuat untuk berevolusi dan beradaptasi dengan situasi saat ini dan yang sedang berkembang."

Patroli bersama

Menteri Pertahanan Malaysia Hishammuddin Hussein mengumumkan di Shangri-La Dialogue bahwa patroli bersama hampir siap dimulai.

"Malaysia, Filipina dan Indonesia akan meluncurkan patroli laut bersama di perairan Mindanao bulan ini untuk menahan ancaman dari kelompok militan Daesh yang ingin membentuk kekhalifahan di Asia Tenggara," katanya menggunakan nama lain untuk ISIS.

"Patroli gabungan di perairan yang berbatasan dengan ketiga negara akan dimulai pada 19 Juni namun patroli udara akan dimulai segera setelah itu."

Pejabat dari Indonesia maupun Filipina belum merespons tentang konfirmasi tanggal peluncuran tersebut saat dihubungi. (*)

Komentar

Loading...