Lagi dan Lagi, Apa Kabar dr. Hardianis Selaku direktur RSUD Datu Beru Takengon….?

Dipicu Proyek, Firdaus : Lelalang di RSUD ini sudah Tayang Tiba-Tiba Tanpa Ada Musyawarah

Foto Bupati Shabela dan Wakil Bupati Firdaus
Foto Bupati Shabela dan Wakil Bupati Firdaus

TOSKOMI.COM || Takengon - Wakil Bupati Aceh Tengah Firdaus mengatakan tak sepenuhnya mengingat apakah ada melontarkan kata-kata ancaman kepada Bupati Aceh Tengah Shabela Abubakar.

Sebelumnya Shabela mengungkapkan bahwa Firdaus
mengancam membunuhnya. Hal itu dilakukan pada Rabu sore, 13 Mei 2020, saat
Shabela Abubakar sedang melangsungkan rapat dengan sejumlah kepala SKPD di
pendopo bupati.

Secara tiba-tiba, Firdaus masuk dan mengeluarkan
kata-kata makian yang tidak pantas, termasukmengancam membunuh dia dan anaknya.

“Kalau seingat saya tidak ada. Tapi mungkin karena
saya sedang emosi, tidak terkontrol, jadi saya tidak ingat persis apakah ada
ungkapan itu,” kata Firdaus saat dikonfirmasi BERITAKINI.CO, Kamis malam
(14/5/2020).

“Karena mungkin emosi, di luar kesadaran bisa saja.
Spontanitas saja. Karena itu tidak teringat lagi.”’

Dipicu
soal proyek

Firdaus juga menanggapi ihwal pemicu dirinya emosi
yang disebut berkaitan dengan sejumlah proyek. Dia tidak menampik hal itu
merupakan salah satu pemicu dirinya emosi.

“Sebenarnya proyek ini sudah tayang tiba-tiba, tanpa
musyawarah, tidak dilibatkan kita, panitia kita juga tidak tahu. Itulah
sebabnya memicu emosi. Dan ini adalah akumulasi sejak tiga tahun belakangan,”
katanya.

Adapun proyek yang menjadi konsentrasinya tersebut
adalah paket-paket yang ada di Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit Umum Daerah.

“Semestinya adalah pemberitahuan, meski pun saya ini
wakil bupati. Tapi tanpa sepengetahuan saya, ternyata sudah dua hari
tayang," katanya.

Ia pun merasa sama sekali tidak dianggap atas
kebijakan tersebut.

Tak hanya itu, kata Firdaus, kebijakan mutasi
pejabat, baik eselon II, III dan IV juga kerap tanpa melibatkan dirinya sama
sekali.

Meski itu adalah hak preogratif bupati, kata
Firdaus, namun harusnya ada musyawarah dengan wakil bupati. “Ini tiba-tiba saja
sudah ada undangan pelantikan,” katanya.

“Kadang pun kita mengetahui itu dari kalangan
eksternal. Jadi orang luar lebih tahu dari pada saya, begitulah kira-kira.”

Firdaus mengungkapkan bahwa sikap dan tindakan
Shabela Abubakar tersebut sudah tak lagi sejalan dengan komitmen saat maju
pilkada 2017 lalu.

Di mana ada kesepakatan pelimpahan kewenangan antara
bupati dan wakil bupati.

Di antaranya, kata Firdaus, Rumah Sakit Umum Daerah,
Dinas Kesehatan, Dinas Syariat Islam, Dinas Perhubungan, menjadi kewenangannya.

“Tapi ini tidak ada sama sekali dipenuhi, semuanya
diborongnya,” katanya.

Padahal, kata Firdaus, gara-gara adanya komitmen
pelimpahan kewenangan itu, dirinya bersama tim jadi semangat memperjuangkan
kemenangan pada pilkada 2017 lalu.

Tapi dengan kenyataan yang terjadi sepanjang tiga
tahun terakhir, kata Firdaus, telah membuatnya frustrasi.

“Kita mau berkontribusi, tapi tidak tau
berkontribusi seperti apa,” katanya.

Hal ini sebetulnya sudah sempat dikomunikasikan,
baik itu melalui sekda maupun asisten I.

Agar dua pejabat itu memfasilitasi dan
mengkomunikasikan ihwal komitmen tersebut pada bupati.

Firdaus mengatakan, dia sengaja memita bantuan sekda
dan asisten I untuk menghindari potensi ketersinggungan jika menyampaikan
langsung pada bupati.

“Tapi tidak juga jalan sampai sekarang,” katanya.

Sementara soal rencana bupati melaporkan Firdaus ke
polisi, dinilainya sebagai hak setiap warga negara.

“Soal dia hendak melaporkan, itu hak setiap warga
negara. Kita tidak bisa melarang,” katanya.

“Jika sudah dilapor, yang kita ikuti.”
(BeritaKini.Co)

Komentar

Loading...