Pak Samsul pedagang : Sebelum Jam Malam pun pendapatan Berkurang apalagi ada jam malam

Pemerintah Aceh Cabut Jam Malam, Pak Samsul Pedagang UMKM : Kami Sangat Bersyukur

Screenshot_20200404-200346_Chrome

TOSKOMI.COM || Banda Aceh - Per hari ini, Sabtu, (4/4/2020), penerapan jam malam yang sebelumnya diberlakukan sejak tanggal 29 Maret 2020 resmi dihentikan. Dengan demikian, aktifitas malam sudah bisa dilanjutkan lagi.

"Karena belum diikuti program savety net yang memadai. Per hari ini jam malam akan kita hentikan dulu. Aktifitas malam tetap kita jalankan lagi, karena sebagian besar UMKM itu mencari nafkah di malam hari. Sambil kemudian kita akan kembalikan dulu ke PP 21 tebtang pembatasan sosial berskala besar. Jadi apa yang kita lakukan di Aceh sama dan sinkron dengan apa yang dilakukan pemerintah," jelas Nova dalam interview yang disiarkan oleh TVRI, Sabtu, (4/4/2020) siang.

Nova menjelaskan saat pemberlakuan jam malam diterapkan situasi masyarakat Aceh secara umum sama seperti daerah lainnya. Dia juga menjelaskan, sesuai arahan Presiden Jokowi, telah menyiapkan sejumlah skema distancing sosial.

"Kita juga sudah siapkan anggaran tidak terduga dari APBA sebesar Rp 118 milyar. Dana ini full kita cadangkan untuk pelaksanaan sosial savety net dan untuk bidang kesehatan terutama untuk rapid tes," terang Nova

Untuk mengatasi penurunan sektor ekonomi terutama di sektor pariwisata, lanjut Nova, pihaknya sedang merancang program savety net yang dukungan pembiayaannya bersumber dari Inpres no 4 yang dikeluarkan pemerintah.

Artinya, kata Nova, anggaran tersebut bisa dialihkan dari anggaran fisik ke anggaran sosial budaya dan kesehatan, khususnya sosial savety net.

"Itu semua sudah berjalan. Per hari ini, sebanyak 60 ribu keluarga penerima manfaat kita data dan kita jalankan, yang pertama dengam skema pembagian sembako per 2 minggu per kk," terang Nova.

Ketika disinggung terkait langkah antisipasi berupa pendirian rumah sakit darurat di Aceh, Nova kembali menegaskan pihaknya sejak tanggal 13 Februari 2020 telah menyiapkan Respitory Intensive Care Unit (RICU) sebanyak 6 ruang yang diperuntukkan untuk pasien positif.

"Per hari ini pasien positif di Aceh hanya 5 orang sehingga ruang belum begitu massif kita butuhkan," kata dia. Untuk persiapan lainnya, Nova juga menerangkan telah menyiapkan 24 ruang lainnya di RSUZA dan 12 ruang di RS Cut Meutia Lhokseumawe.

"Juga telah kita tunjuk 13 RS rujukan yang telah mendapat persetujuan dari Kementrian Kesehatan. Serta banyak ruang-ruang ODP yang kita persiapkan lebih dari 1000 kamar untuk mengantisipasi apabila terjadi perkembangan penularan covid-19," ucapnya. (Dialeksis)

Disamping itu pak Samsul yang merupakan pedagang kecil di kota takengon yang biasanya buka setelah shalat Ashar hingga jam 12 malam sangat menyambut baik pencabutan jam malam ini.

“Semoga dicabutnya jam malam ini oleh pemerintah aceh juga turut serta cabutnya Virus Corana ini dari bumi Allah ini”. Tandasnya

Lanjut Pak Samsul yang merupakan pedagang UMKM di kota takengon sebelumnya sangat sulit mengais rezeki lantaran pemberlakuan jam malam sehingga tidak ada lagi masyarakat yang keluar rumah setelah shalat mahgrib.

Dan kami pedagang kecil hampir seluruhnya di kota takengon sangat sulit, sebelum di berlakukan jam malam pun masyarakat sudah tidak banyak lagi beraktifitas di luar rumah sebagaimana sebelum adanya Virus Corona ini.

Kami selaku rakyat kecil cuman bisa ber Do’a agar Virus Corona ini cepat hilang dan pergi terlebih ini mau memasuki bulan puasa, tentu pedagang seperti kami ini hanya bisa berjualan di sore hari sehungga ini huga akan berpengaruh terhadap pendapatan kami. Tutupnya Pak Samsul pedagang UMKN kota takengon (A1)

Komentar

Loading...