Mantan Bupati Aja Ngerti Gaesss…!

Mantan Bupati : Tidak Jelas Asal Usul Kopi Yang Mengandung Zat Kimia, Kopi Gayo Tetap Yang Terbaik

PhotoGrid_1571017106438

TOSKOMI.COM || Aceh Tengah - Terkait isu kopi yang mendung zat kimia yang sudah membuat petani kopi gayo resah, kali ini mantan bupati aceh tengah angkat bicara Ir.Nasaruddin MM.

Menurut Pak Nas, Telah banyak sumbangan pemikiran/pendapat/saran/masukan yang disampaikan berkaitan dengan informasi penolakan kopi arabika gayo oleh beberapa buyer dari beberapa negara di Uni Eropa, bahwa sekitar tahun 2009, organisasi Masyarakat Perlindungan Kopi Gayo (MPKG) dengan dukungan Pemkab Aceh Tengah (AT), Bener Meriah (BM), Gayo Lues (GL), dan Pemerintah Aceh (PA) mendaftarkan kopi arabika gayo ke Kementerian Hukum dan HAM untuk mendapatkan sertifikat indikasi geografis (IG).

Setelah melalui proses yang relatif panjang, tahun 2010, Kemenkumham menerbitkan Sertifikat IG Kopi Arabika Gayo. Salah satu pertimbangan tentu menyangkut penggunaan bahan kimia yang masih di bawah batas yang diperkenankan. Ungkap mantan bupati Nasaruddin yang sudah 12 Tahun memimpin aceh tengah ini

Lanjut pak Nas, Pada tahun 2014, dengan dukungan pemerintah kabupaten tersebut dan Pemerintah Aceh serta beberapa kementerian/lembaga di pusat, MPKG kembali mendaftarkan kopi arabika gayo ke Uni Eropa.

Pihak berwenang dari Uni Eropa melakukan penelitian ke Dataran Tinggi Gayo, habitat tanaman kopi arabika gayo. Penelitian cukup detail, meliputi tanah/lahan budidaya, daun kopi dan buah kopi hijau (yang masih di pohon). Terang Pak Nas

Alhamdulillah, semua memenuhi persyaratan. Tahun 2016, kopi arabika gayo mendapat sertifikat dari Uni Eropa. Selanjutnya, untuk menjamin mutu yang dipersyaratkan, setiap tahunnya, melalui lembaga berwenang di Uni Eropa tetap melakukan penelitian terhadap biji kopi arabika gayo. Alhamdulillah, selalu memenuhi persyaratan.

Menurut pengamatan saya di lapangkan (bukan hasil penelitian), perlakuan petani dalam hal budidaya kopi arabika gayo pada saat sebelum mendapat sertifikat IG dan sertifikat dari Uni Eropa, sampai saat ini, tidaklah terlalu berbeda. Terutama, dalam hal penggunaan bahan kimia (pupuk, herbisida maupun pestisida). Menurut hemat saya, masih di bawah ambang yang diperkenankan.

Mengenai adanya penolakan kopi arabika gayo oleh beberapa buyer di Uni Eropa,
Saya telah berkomunikasi langsung dengan Ibu Rahmah, bahwa kopi yang ditolak oleh beberapa buyer dimaksud adalah Kopi yang tergolong KONVENSIONAL (yang tidak terlalu jelas asal usulnya).

Kopi arabika gayo organik yang diekspor oleh beberapa eksportir lainya, termasuk yang diekspor oleh Ibu Rahmah ke berbagai negara tujuan, sampai saat ini belum ada permasalahan. Info lainnya bahwa sampai saat ini, volume ekspor kopi arabika gayo 75 % ke Amerika Serikat, 15-20 % ke Uni Eropa, dan lainnya ke Asia terutama Jepang serta beberapa negara lainnya.

Mengingat kopi arabika gayo adalah komoditi utama dalam perekonomian masyarakat di AT, BM, dan sebahagian masyarakat GL dan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah: Kab AT, BM, GL dan Prov Aceh serta nasional (melalui pemasukan devisa negara), maka sangat diharapkan perhatian yang sungguh-sungguh dari berbagai pihak baik unsur pemerintah (desa, kec, kab, prov dan nasional), pelaku bisnis (pedagang/eksportir) maupun petani.

Dengan kepedulian banyak pihak, maka harapan dalam hal peningkatan produksi dan mutu dapat diwujudkan. Mohon maaf apabila dalam info ini ada yg kurang berkenan. Wass. Nasaruddin. (A1)

Komentar

Loading...