Langkah Si-Putih Abu-abu Patah, Mungkin Belum Saatnya

8CA30DD2-3740-4513-9CE8-4E299106BCB7

TOSKOMI.COM|| Takengon (29/9/2019)- Demo Aliansi Mahasiswa Gayo dengan tuntutan Mendesak Presiden terbitkan Perpu KPK dan Batalkan sejumlah RUU (30/9/2019) sempat akan disusupi pasukan Putih-Abu abu.

Pagi itu Ratusan Mahasiswa tercengang dengan kehadiran Pasukan Abu abu, yang hadir bergerombolan menaiki sepeda motor lengkap dengan peralatan karton yang telah dilukis luapan protes. Pasalnya berbagai pihak telah menyatakan larangan tegas bagi siswa yang ikut demonstrasi.

Himbauan larangan tersebut beredar, mulai dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala sekolah mengantisipasi gerakan pasukan Abu abu mulai dari media sosial dan himbauan lisan dalam Upacara senin pagi tadi.

Namun beberapa diantaranya tidak menghiraukan himbauan tersebut bahkan ada yang datang untuk sekedar menyuarakan penolakan RUKUHP dan berbagai produk DPR tersebut.

Alasan mereka realistis yakni panggilan jiwa. Memang dibeberapa kasus panggilan jiwa hadir tanpa mengenal umur dan status seseorang.

Langkah Siswa tersebut terpaksa terhenti, sejuta tangan menahan mereka. Koordinator Aksi, Agus sebagaimana dilansir dari regional kompas mengapresiasi keinginan siswa untuk melakukan unjuk rasa. Namun menurutnya waktu demo belum tepat karena mereka tidak mengantongi izin dari sekolah.

Kehendak menyampaikan aspirasi dari mereka tidak patah begitu saja. Saat suara Kakak-kakak mahasiswa mulai mengguncang gedung dewan, beberapa diantara mereka memilih menyaksikan dari kejauhan.

Lawau jarak antara mereka hanya berbatas tembok, tapi kehadiran mereka menarik perhatian sejumlah pihak. Dan kehadiran mereka dalam aksi tersebut sebagai saksi bahwa ada persoalaan etik yang luar biasa menyelimuti negeri ini.

“Entah apa yang merasukimu” kata tersebut layak dipertanyakan kepada Dewan Perwakilan Rakyat yang saat ini dianggap sebagai biang kerok Pasukan berseragam putih dan celana Abu abu juga terpanggil dalam aksi tersebut.

Ketua DPC GmnI Aceh Tengah, Mulyadi saat dimintai tanggapanya menganggap ini merupakan fenomena yang unik.

Pasalnya menurut Mul yang memprovokasi mereka adalah Aturan yang sewenang-wenang. 

Mulyadi menambahkan semua pihak tidak mempersoalkan lebih lanjut kehadiran mereka dijalanan. Pihak sekolah juga dihimbaunya tidak melakukan tindakan tegas atas pelanggaran itu. [Az]

Komentar

Loading...