Shabela juga keberatan atas tudingan para pihak yang menyudutkannya seakan setuju dengan rencana tambang emas PT LMR.

Terkait Tambang Emas : Bupati Shabela Akui Ada Bertemu PT.LMR “Hanya cerita-cerita, kasih minum, sudah, selesai, kan biasa itu,”

FB_IMG_1566130875283

TOSKOMI.COM || Takengon - Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar mengaku belum menerima pemberitahuan resmi dari PT Linge Mineral Research (LMR) soal rencana tambang emas di Kecamatan Linge.

Begitupun, Ia mengaku pihak PT LMR sudah pernah menemuinya, namun tidak dalam konteks laporan resmi rencana operasi tambang.

"Dimasa saya gak ada, hanya berjumpa orangnya, cerita-cerita, kasih minum, sudah, selesai, kan biasa itu," kata Shabela kepada awak media, Sabtu (17/8).

Ia juga mengaku tidak mengetahui perkembangan terkini rencana tambang oleh PT. LMR di Linge. Shabela juga keberatan atas tudingan para pihak yang menyudutkannya seakan setuju dengan rencana tambang emas PT LMR. Padahal katanya, pemerintah Aceh Tengah dibawah pimpinannya tidak pernah menerbitkan izin tambang.

"Kita gak punya kewenangan, yang mengawasi ini adalah provinsi," kata Shabela.

Hematnya, di Linge terdapat tambang emas ilegal yang tidak diketahui pemiliknya. Penambangannya juga diduga menggunakan merkuri.

Pemerintah daerah katanya, juga telah berupaya menertibkan penambangan ilegal itu dengan menerjunkan petugas Satpol PP, namun gagal. Petugas katanya, justru mendapat perlawanan dari pemilik tambang.

Penolakan PT LMR di Linge mencuat ke publik sejak 4 April 2019 setelah diumumkan rencana penambangan dan pengolahan bijih emas dmp di Proyek Abong, berlokasi di Lumut, Owaq, dan Penarun, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah. Besaran rencana kegiatan sekitar 9.684 Ha dengan target produksi maksimal 800 ribu ton/tahun. Di Aceh Tengah, aksi penolakan sudah kerap disuarakan.

Diskusi publik yang berlangsung di salah satu Coffe di Takengon Sabtu sore (17/8) membahas juga membahas rencana tambang oleh PT LMR. Hasilnya, para pihak sepakat menolak. Aktivis, tokoh masyarakat dan LSM ikut membubuhkan tanda tangan penolakan.

Kuasa direktur PT LMR, Achmad Zulkarnain menghormati pendapat masyarakat. Keputusan itu katanya, akan disampaikan kepada pimpinan sebagai bahan pertimbangan.

Pihak perusahaan katanya, hanya ingin memastikan informasi yang diperoleh masyarakat tentang tambang berasal dari sumber yang benar. Pasalnya kata Achmad, di daerah lain, tambang semula juga mendapat penolakan, namun setelah masyaraka merasakan asas manfaat dari hadirnya tambang, pada akhirnya dapat diterima.

Saat ini sebutnya, perusahaan sedang melakukan studi kelayakan. Jika layak, pihaknya akan melengkapi dokumen Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) untuk melanjutkan ke tahapan berikutnya.

"Kendati nantinya kandas, itu sudah resiko perusahaan," ujarnya

Perusahaan katanya, berkomitmen untuk menjaga lingkungan, kesejahteraan masyarakat lingkar tambang dan kawasan regional operasi tambang dengan pemenuhan tenaga kerja lokal, pembangunan infrastruktur dan bentuk dana sosial lainnya. (RRI.TKN)

Komentar

Loading...