Direktur RSUD Takengon di Desak Mundur Oleh Firdaus.SKM

Screenshot_2018-12-06-10-52-44_1544068543705

TOSKOMI.COM || Wakil Bupati Aceh Tengah, H Firdaus SKM menilai Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Datu Beru Takengon, dr Hardi Yanis Sp.PD kurang fokus menangani permasalahan yang ada di rumah sakit yang ia pimpin itu, karena sedang menjalani pendidikan Sub Spesialis Ginjal disalah satu Universitas di Banda Aceh.

Menurut Firdaus, dengan kondisi itu, dr Hardi Yanis mungkin bisa fokus terhadap pekerjaan di rumah sakit sebagai direktur, karena harus membagi waktu dengan masa pendidikan yang sedang ia tempuh.
Bahkan menurut Wabup dalam sebulan terakhir sempat terjadi dua insiden di rumah sakit daerah tersebut, yakni robohnya plafon ruangan rawat inap dan kosongnya petugas jaga saat keluarga pasien membutuhkan perawat untuk mengganti cairan infus.

“Dalam satu bulan saja sudah ada dua insiden yang terjadi di Rumah Sakit Datu Beru, kenapa ini bisa terjadi, ya karena direktur tidak bisa fokus menangani dan mengawasi rumah sakit, sebab dia sedang mengikuti pendidikan Sub Spesialis di Banda Aceh, tentu saja dia harus membagi waktu antara rumah sakit dan pendidikannya,” jelas Firdaus.

Seharusnya, lanjut Firdaus, jika merujuk kepada Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor DM. 02.03/V/0021/2018, bagi dokter baik yang menduduki jabatan struktural maupun fungsional diwajibkan untuk mengundurkan diri dari jabatannya saat mengikuti pendidikan.

“Seharusnya dia mengundurkan diri dahulu dari jabatannya baik jabatan struktural selaku dirut rumah sakit, maupun jabatan fungsional selaku dokter yang ditugaskan di rumah sakit tersebut, supaya dia bisa lebih fokus belajar dan tanggungjawab rumah sakit juga dapat dialihkan kepada orang lain,” kata Firdaus yang mengaku pernah memiliki rumah sakit swasta di Lhokseumawe sebelum menjabat sebagai Wakil Bupati.

Sementara itu, dr Hardi Yanis ketika dikomfirmasi terkait surat edaran mentri kesehatan yang mengharuskan dirinya mundur dari jabatan karena sedang mengikuti proses pendidikan, ia menjelaskan bahwa surat edaran tersebut hanya diperuntukkan bagi mereka (dokter) yang mengikuti pendidikan menggunkan beasiswa sedangkan ia berdalih dirinya menggunakan biaya pribadi untuk pendidikan.

“Tolonglah dipelajari lagi surat edaran itu, itu untuk mereka yang menggunakan beasiswa, kalau saya kan pakai uang pribadi, bukan beasiswa, jadi tidak harus mundur dari jabatan,” ujar Hardi. (AnteroAceh)

Komentar

Loading...