Hoaks kesehatan membikin upaya penyembuhan penyakit semakin sulit.

Negara Gagal Menagkal HOAX …? Akibatnya kesehatan membikin upaya penyembuhan penyakit semakin sulit.

Warga melintas didepan mural bertema Anti Hoax di desa Madegondo Grogol Sukoharjo Jawa Tengah

TOSKOMI.COM || Jakarta - “Yang menderita sakit gigi menahun seperti suami saya monggo dipraktekin, baput digeprek, ditempelin di pergelangan tangan. Pake lakban biar ga lepas. Kalau sakit gigi sebelah kanan, pasang bawang putih sebelah kiri, begitu sebaliknya.”

Pernah mendapat pesan-pesan kesehatan semacam itu dan tertarik mempraktikkannya?

Saya menemukannya di salah satu akun Facebook yang sudah dibagikan 23 ribu kali dan dikomentari lebih dari 2.400 komentar. Ketika menelusur kolom komentar, ternyata banyak orang yang mengaku telah mempraktikkan metode penyembuhan sakit gigi dengan bawang putih, dan mengaku berhasil. Tapi ada juga yang merasa kapok karena malah membikin kulit tangannya melepuh.

Sakit gigi reda dengan bawang putih, kanker sembuh hanya dengan memijat jari jempol kaki, atau minum biji rebusan alpukat. Hoaks-hoaks kesehatan itu menyebar dengan cepat, dibagikan melalui banyak akun media sosial, dan dipercayai banyak orang. Biasanya agar semakin meyakinkan, berita hoaks itu akan dibumbui klaim keagamaan, kata-kata provokatif, atau testimoni seorang dokter - yang bahkan, namanya pun tidak ditemukan dalam daftar organisasi kedokteran manapun. 

Banyak masyarakat yang langsung menelan informasi itu, tanpa mengklarifikasinya terlebih dahulu. Menurut survei Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tahun 2017, masyarakat Indonesia kurang memahami konten kesehatan, sehingga langsung menyebarkannya meski itu masuk kategori hoaks. Hoaks kesehatan di negara ini menempati urutan pertama yang paling banyak disebarkan. Dari seribu berita hoaks sejak Februari 2016 hingga Februari 2017 yang menjadi sampel penelitian, 27 persennya berisi soal kesehatan.

Di posisi kedua, sebanyak 22 persen berita hoaks menyoal politik, disusul berita hiburan sekitar 15 persen, sisanya, berita mengenai persaingan bisnis dan lainnya. Dalam wawancara bersama peneliti, para penyebar berita merasa perlu mempublikasikan informasi kesehatan itu karena dianggap bermanfaat. Dasar manfaat dan kebenarannya hanya bersumber keyakinan pada logika mereka. Sementara pengetahuan yang mereka miliki soal informasi tersebut, bisa dikatakan sangatlah kurang. 

Mirisnya, ketika organisasi kesehatan memberikan klarifikasi yang benar, informasinya justru tidak menyebar seluas berita palsunya. Alhasil, berita-berita palsu kesehatan tetap lebih populer dikonsumsi masyarakat. Penelitian yang terbit di Jurnal Science (2018) memperkuat hipotesa tersebut. Berita bohong, menyebar jauh lebih cepat dibanding berita terpercaya. Satu persen hoaks paling populer menyebar ke seribu hingga 100 ribu orang, sementara informasi valid jarang menyentuh lebih dari seribu orang.

“Hoaks 70 persen lebih mungkin dibagikan di Twitter. Paling umum adalah membesar-besarkan manfaat vitamin, herbal, suplemen, homeopati, resep anti tua, obat flu, dan program antikanker,” simpul peneliti yang mengumpulkan data rumor di Twitter dari tahun 2006 hingga 2017. 

Sakit? Tanya Dokter atau Searching di Google?

Ketika mendapat gejala kesehatan dari suatu penyakit
tertentu, hal apa yang pertama Anda lakukan? 

Jawaban dari pertanyaan tersebut akan memecah pembaca tulisan
ini menjadi dua kelompok : mereka yang langsung memeriksakan diri ke tenaga
medis, atau golongan lain yang justru mencari pertolongan lewat dokter Google
dan pergi membeli obat sendiri. Jika Anda termasuk pada kelompok yang kedua,
maka tuntaskanlah membaca artikel ini. 

Meriset sendiri gejala penyakit secara online bisa
memunculkan rasa takut atau khawatir berlebih. Hasil diagnosa online lebih sering
meleset dibanding tepat, bahkan penyakit yang dideteksi cenderung terkesan
parah, ketimbang penyakit sebenarnya. Terlebih, banyak hoaks seputar kesehatan
berseliweran, menambah ketakutan masyarakat untuk pergi ke dokter. 

“Hoaks sering membuat pasien menunda perawatan dan
mengeluarkan uang lebih untuk pengobatan alternatif yang tidak akurat,” ujar
dr. Shilpi Agarwal, seorang dokter dari Washington, dipacak di laman Health
Line. 

Jikapun berhasil, seperti klaim beberapa orang ketika
mengobati sakit gigi dengan tempelan bawang putih, maka sudah bisa dipastikan
itu hanyalah efek placebo semata. Atau yang sebenarnya terjadi, nyeri pada
penyakit aslinya teralihkan dengan rasa hangat atau nyeri lain dari trik hoaks
kesehatan tersebut.

Informasi kesehatan palsu juga bisa membuat pasien meragukan
diagnosa dari dokter dan membikin pekerjaan dokter semakin sulit. Studi yang
terbit di JNCI (2017) menyatakan bahwa ketika pasien kanker mensubtitusi terapi
medis dengan pengobatan alternatif, maka risiko kematian akan naik menjadi 2,5
kali lipat. 

“Banyak kunjungan medis dihabiskan cuma untuk mengoreksi
informasi yang salah dan mendidik pasien kembali,” kata Agarwal. 

Hoaks kesehatan bisa jadi merupakan hoaks yang menimbulkan
dampak paling berbahaya. Jika hoaks politik memecah belah bangsa, maka kabar
bohong seputar kesehatan bisa mengancam nyawa. Karenanya, mulai sekarang, jika
Anda menemukan informasi-informasi kesehatan yang terkesan spektakuler, ujilah
kebenaran datanya.

Perangi hoaks kesehatan dengan cara mencari sumber berita
terpercaya dari organisasi kesehatan tertentu. Lalu jangan lupa mencari lebih
dari satu sumber informasi, skeptis dan verifikasi. Hoaks biasanya selalu
ditandai dengan klaim kesehatan yang terlalu berlebihan. Terakhir, tanyakan
segala informasi kesehatan yang masih sumir kepada dokter. (tirto)

Komentar

Loading...