(BAGIAN XI) BUPATI SHABELA TAK SAMPAI KE BATAS: “MENYESAL KEMUDIAN TIADA GUNA”

Fauzan Azima

TOSKOMI.COM || TAkengon - Satu malam langit dipolesi awan dan di langit bertabur bintang. Seorang pendeta muda mengajak biarawati menonton bioskop. Dalam keremangan lampu si pendeta mulai nakal. Tiba-tiba biarawati berucap, "Bapa, ingat Markus ayat 44." Sontak si pendeta menghentikan aksinya.

Film pun usai, mereka pun pulang dan berpisah tanpa kata. Sesampai di rumah pendeta pun tidak sabar mencari tahu ayat yang diperingatkan oleh biarawati di bioskop tadi. Pendeta kaget dan menepuk jidatnya! Ternyata pada ayat tersebut tertulis, "Teruskan perjuanganmu!"

Begitulah "Bang Bela" akibatnya ketidaktahuan menyesal kemudian tiada guna. Saya benar-benar khawatir dengan pantun jenaka "gelak tawa kerbau sangat ramai melihat kera berkaca mata" disematkan kepada "Bang Bela" di kemudian hari.

It's Ok! Saya ingin menyampaikan kabar gembira kepada "Bang Bela" bahwa "Bagian XI" ini adalah tulisan yang terakhir. Saya juga tidak ingin tulisan ini melegenda di Aceh Tengah. Kalaupun harus menulis, tentu dengan judul yang lain lagi.

Saya fikir sudah cukup ilmu pengetahuan yang saya berikan dengan tujuan semata-mata ingin menyelamatkan saudara saya, walaupun pahit memang, tetapi untuk kebaikan harus saya sampaikan, meskipun resiko yang saya terima adalah benci roman dari saudara sendiri.

Seperti guru bela diri kunfu tidak mungkin bersama murid-muridnya selamanya. Jurus-jurus yang sudah diturunkan oleh gurunya diaplikasikan oleh murid-muridnya dalam kehidupan dunia persilatan.

Selesai sudah pengajaran dari saya! Saya menganggap "Bang Bela" telah menguasai "jurus-jurus" yang saya ajarkan dengan paripurna untuk sampai ke batas dalam memimpin Aceh Tengah sampai pada tahun 2022.

Sekarang terserah kepada "Bang Bela" mengambil langkah selanjutnya. Apakah masih melanjutkan "hegemoni nepotisme" dalam menjalankan pemerintahan atau berani merombak total, dengan menjadikan kasih sayang, keadilan, tranparansi, kebenaran, persaudaraan, keikhlasan dan kebersamaan sebagai "Bupati Aceh Tengah sebenarnya."

Akhirnya saya sebagai pribadi maupun sebagai warga Aceh Tengah mohon maaf lahir dan bathin, khususnya kepada "Bang Bela" yang selama dalam "kelas pendidikan" merasa "ditendang" atau "ditampar" bahkan "dihinakan" untuk itu saya mohon diperbanyak maaf. Sekali lagi itu hanya pengajaran untuk kebaikan kita semua.

Fauzan Azima

(Mendale, 7 Juli 2019)

Komentar

Loading...