Pembantaian Para Benteng Nazi : 30 Juni 1934 Malam Pisau Panjang Bagi Yahudi

Ilustrasi Gambar

TOSKOMI.COM || ada tahun-tahun awal Drittes Reich (Reich Ketiga), pemerintahan Adolf Hitler menghadapi tantangan serius terkait salah satu pasukan elitnya: Sturmabteilung (SA) atau detasemen Storm,

yang tidak lain merupakan sayap paramiliter milik Partai Nazi pimpinan Ernst Röhm.

SA berperan penting mengantarkan Adolf Hitler naik ke tampuk kekuasaan pada tahun 1920 dan 1930. Merekalah benteng utama Nazi yang mempertaruhkan lehernya kala menghadapi organ paramiliter partai lain, terutama dari Partai Komunis Jerman. Selain itu, SA juga kerap melindungi para demonstran pro-Nazi, juga mengintimidasi warga negara macam Slavia dan Romania, serta memboikot bisnis orang Yahudi di Jerman.

Permasalahan muncul tatkala SA makin berkembang pesat dan memiliki jutaan anggota. Schutzstaffel (SS), organisasi keamanan besar Nazi lainnya pimpinan Heinrich Himmler, mulai khawatir dengan hal tersebut. Dari sini, konflik dingin antara kedua pasukan itu dan juga pasukan reguler Jerman (Reichswehr) mulai menguar, hingga berujung pada satu konklusi: SA harus disingkirkan.

Röhm yang memimpin SA adalah orang dekat, bahkan dapat dikatakan merupakan karib dari Hitler. Pemilihan Röhm menjadi pemimpin SA pun merupakan keputusan Hitler langsung pada 1931. Satu hal penting: Ia sama ambisiusnya dengan Hitler. Di bawah kepemimpinan Röhm, jumlah anggota SA mencapai tiga juta orang hanya dalam waktu kurang lebih tiga tahun. Ketika ia diberi kursi di Dewan Pertahanan Nasional, Röhm mulai menuntut lebih dan menekankan bahwa tugas Reichswehr di masa depan sebaiknya dilakukan SA.

Sikap Röhm mempertebal konflik dingin antara SA, SS, serta Reichswehr. Namun, ia sendiri bukannya tidak tahu. Sebab itu, Röhm pun mengusulkan pembentukan "Tentara Rakyat" yang mencakup ketiga pasukan tadi. Usulannya justru membuat Hitler curiga jika Röhm hendak mengkudeta dirinya. Jenderal-jenderal yang lain pun mencium gelagat pembangkangan dari usulan tersebut.

Besarnya organisasi SA juga turut membuat Angkatan Darat cemas. Para industrialis yang telah menyediakan dana untuk kemenangan Nazi pun juga tidak senang dengan pandangan sosialistik Röhm mengenai ekonomi serta sikapnya yang menyebut bahwa revolusi masih harus dilakukan.

Alhasil semua sepakat satu suara: Tidak bisa tidak, Röhm juga harus dihabisi.

Dimulainya 'Malam Pisau Panjang'

Upaya Hitler untuk mengatasi masalah SA mula-mula dilakukan dengan mengadakan pertemuan dengan para pemimpin SA dan angkatan bersenjata, termasuk Röhm serta Menteri Pertahanan Jerman, Jenderal Werner von Blomberg, pada akhir Februari 1934.

Pada pertemuan itu, Hitler dengan tegas mengatakan kepada Röhm bahwa SA tidak akan menjadi kekuatan militer di Jerman dan fungsinya dibatasi untuk persoalan politik tertentu. Röhm menyetujui hal itu dan bahkan menandatangani semacam perjanjian dengan Blomberg.

Namun, upaya tersebut tidak membuat berbagai jenderal serta petinggi lain tenang. Maka kali ini, Röhm pun dihabisi melalui dengan cara yang amat sistematis. Semuanya dimulai dari Himmler meminta Reinhard Heydrich — salah satu pejabat SS — untuk mengumpulkan berkas terkait aktivitas Röhm. Setelah terkumpul, bukti-bukti pun dikonstruksi guna menunjukkan bahwa Röhm telah membayar 12 juta mark kepada agen Perancis untuk sebuah operasi yang bertujuan menggulingkan Hitler.

Bukti-bukti tersebut kemudian diperlihatkan kepada Hitler. Mulanya, ia masih enggan percaya mengingat Röhm bagaimanapun pendukung pertama Hitler dan pembesar awal Nazi. Namun, Hermann Goering dan Himmler memainkan peran vital dengan terus memberi Hitler informasi baru tentang kudeta yang diusulkan Röhm. 

Ketika akhirnya dikatakan bahwa Rohm bersekongkol dengan Gregor Strasser, sosok yang dibenci Hitler, sang Führer pun mulai goyah. Ia pun memutuskan untuk mengambil langkah pembersihan terhadap SA. 

Kematian yang Tak Terelakkan

Langkah Hitler dimulai dengan memerintahkan semua pemimpin SA menghadiri sebuah pertemuan di hotel Hanselbauer, Bad Wiessee, tempat Röhm dan para penjaganya tinggal. Sekitar pukul 4.30 pagi, 30 Juni 1934, tepat hari ini 85 tahun lalu, Hitler yang membawa sekelompok besar SS dan polisi reguler lainnya terbang menuju Kementerian Dalam Negeri Bavaria di Munich guna menemui para pemimpin SA yang telah diminta berkumpul. Setelahnya, mereka bergerak ke hotel Hanselbauer.

Di hotel tersebut, pasukan SS yang dipimpin Josef "Sepp" Dietrich segera menyerbu kamar Röhm. Dalam kondisi terkejut karena masih di tempat tidur, Röhm langsung diserahkan kepada dua orang detektif yang tengah membawa pistol. Anggota SS juga menemukan Edmund Heines, wakil Röhm, bersama pria lain berusia 18 tahun dalam satu ranjang. Hitler pun segera memerintahkan kedua pria tersebut ditembak mati. 

Adapun Röhm beserta beberapa pemimpin SA lainnya tidak segera dibunuh namun ditahan terlebih dahulu di penjara Stadelheim, tempat ia pernah dibui karena membantu Hitler dalam kudeta gagal tahun 1923. Setibanya di lokasi, Hitler langsung berpidato secara berapi-api di tengah kerumunan orang yang berkumpul: "Pengkhianat terburuk dalam sejarah dunia!," demikian pekiknya

Rudolf Hess, wakil Hitler di Nazi yang juga teman dekat Röhm, lalu mengajukan diri untuk menjadi eksekutor orang-orang yang dilabeli pengkhianat. Namun, Hitler ragu memberikan mandat kepadanya. Maka, ia kemudian memberi opsi untuk bunuh diri kepada Rohm. 

Seorang perwira SS Theodor Eicke — yang kemudian menjadi komandan kamp konsentrasi Dachau — dan Michael Lippert lalu masuk ke sel penjara Röhm, meletakkan pistol di atas meja, dan mengatakan bahwa ia punya waktu 10 menit untuk menembak dirinya sendiri.

Röhm menolak sembari bicara: "Jika Adolf ingin membunuhku, biarkan ia melakukannya dengan tangannya sendiri."

Mendengar pernyataan Röhm tersebut, Eicke dan Lippert lantas keluar dan berdiskusi. Sekembalinya ke sel tadi, mereka melihat Röhm sudah membusungkan dadanya yang telanjang. Keduanya pun menembaknya lalu memakamkannya di Westfriedhof, Munich. 

Dalam pidato tertanggal 13 Juli 1934, Hitler sempat menyinggung faktor homoseksualitas Röhm, serta menjustifikasi pembersihan yang dilakukannya terhadap SA merupakan konsekuensi dari pengkhianatan. (Tirto.id)

Komentar

Loading...