0 % Riba…? Reformasi Bank Aceh Syariah di Terapkan Plt. Gubernur Seminggu ke Depan

BPPA

TOSKOMI.COM || JAKARTA - Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, memastikan akan melakukan reformasi Bank Aceh Syariah dalam seminggu ke depan agar tampil dengan wajah baru, yang bersih, transparan, dan profesional. Selain itu, Nova meminta manajemen PT Pembangunan Aceh (Pema) segera membentuk anak perusahaan tersebut, salah satunya bidang perikanan.

Nova menyampaikan itu saat merespons masukan berbagai kalangan dan rekomendasi Dialog Pembangunan Ekonomi Aceh Hebat pada acara Halal Bihalal dan Forum Silaturahmi Aceh Meusapat di Kantor Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA), Jakarta Pusat, Ahad, 30 Juni 2019.

Plt. Gubernur memanggil para Kepala Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA) dan meminta mereka berdiri di depan peserta dialog saat ia menyampaikan tanggapan atas rekomendasi dari forum diskusi tersebut. Para Kepala SKPA itu Azhari Kepala Bappeda, Muhammad Raudhi Kadis Perindustrian dan Perdagangan, Jamaluddin Kadis Kebudayaan dan Parawisata, Zulkifli Inspektur, Aulia Sofyan Kadis Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Bustami Hamzah Kepala Badan Pengelolaan Keuangan, Mahdinur Kadis ESDM, Almuniza Kepala BPPA, dan Rahmad Raden Kabiro Humas Setda Aceh. Turut dipanggil Zubir Sahim Plt. Dirut PT Pema, dan Haizir Sulaiman Dirut Bank Aceh.

Nova lalu merincikan tanggapannya. Ia akan membentuk Dewan Ekonomi Aceh selambat-lambatnya tujuh hari ke depan. Nova kemudian menegaskan, PT Pema yang sebelumnya PDPA, dalam waktu kurang dari sebulan harus membentuk anak-anak perusahaan, salah satunya bidang perikanan. "Di tujuh subsektor, yang sudah pasti direkomendasikan tadi subsektor perikanan. Jadi, enam subsektor, plus satu jasa pariwisata," ujarnya.

Plt. Gubernur melanjutkan, terkait investasi harus segera disosialisasikan soal keamanan dan kepastian hukum. "Saya memastikan Aceh itu aman. Tapi keamanan ini aspeknya ada dua. Rasa nyaman dan rasa aman ini persepsi".

"Jika kita cerita angka-angka (kasus kriminal), Aceh lebih aman dari Jakarta. Jadi, yang dikatakan Aceh tidak aman itu sebenarnya persepsi. Untuk ini perlu kita lakukan sosialisasi dan semacam publikasi. Baik empirik maupun dengan media. Empirik itu mengundang tamu sebanyak-banyaknya ke Aceh. Jadi, kita terus menggelorakan, mengampanyekan keamanan yang sebenarnya," kata Nova.

Poin berikutnya, kata Nova, menyelesaikan hal-hal yang tertunda. "Saya mohon dibantu oleh DPR tentang penyelesaian yang tertunda, tentang hak Aceh di Perta Arun Gas, tentang adanya program 50 ribu hektare plus rencana kredit 5 triliun, nanti saya berkoordinasi dengan Wali (Nanggroe) juga". 

"Dan lain-lain, banyak hak kita yang belum terealisasi, termasuk tindak lanjut dari UUPA. Hak kita terhadap kewenangan pertanahan. Macetnya di Kementerian Agraria. Mungkin nanti kami bertemu lagi dengan Bang Sofyan Djalil (Menteri Agraria dan Tata Ruang/ATR)," ujar Nova.

Terakhir, kata Nova, ada usul tentang reformasi Bank Aceh Syariah. "Saya pastikan reformasi akan terjadi seminggu ke depan. Rekomendasi ini hasil forum hari ini. Kita akan lakukan reformasi Bank Aceh Syariah, mengubah portofolio, dan akan tampil Bank Aceh Syariah dengan wajah baru, yang bersih, transparan, dan profesional," tegas Plt. Gubernur Aceh disambut tepuk tangan peserta dialog tersebut.

Saat memperkenalkan Dirut Bank Aceh Haizir Sulaiman kepada forum diskusi itu, Nova kembali mengatakan, "Bank Aceh harus segera berbenah. Forum ini merekomendasikan reformasi yang kita lakukan seminggu ke depan".

"Dari tujuh rekomendasi, yang bisa jawab itu dulu," ujar Nova mengakhiri tanggapannya atas rekomendasi Dialog Pembangunan Ekonomi Aceh Hebat.

Diberitakan sebelumnya, Dialog Pembangunan Ekonomi Aceh Hebat pada acara Halal Bihalal dan Forum Silaturahmi Aceh Meusapat yang digelar Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) di Kantor BPPA, Jakarta Pusat, Ahad, 30 Juni 2019, menghasilkan tujuh poin rekomendasi. 

Kegiatan tersebut dibuka Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, dan dihadiri Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al-Haytar, Muzakir Manaf, Tarmizi A. Karim, Teuku Riefky Harsya (anggota DPR RI asal Aceh), Azhari Cage dan Kautsar (anggota DPRA), Mawardi (Bupati Aceh Besar), Sudirman dan Fachrul Razi (anggota DPD RI asal Aceh), Abdullah Puteh (anggota DPD RI terpilih hasil Pemilu 2019), Makmur Budiman (Ketua Kadin Aceh), Fauzi Husin (mantan Kepala BPKS Sabang), dan sejumlah tokoh lainnya, termasuk Teuku Wisnu, artis dan pengusaha berdarah Aceh di Jakarta. Turut hadir sejumlah Kepala SKPA.

Dialog tersebut menampilkan empat pembicara, yakni Kepala Kantor Bank Indonesia Perwakilan Aceh, Zainal Arifin Lubis, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Dr. Ir. Hamman Riza, M.Sc., Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Prof. Dr. Syamsul Rizal, M.Eng., dan Kapala Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Aceh, Ir. Sabri Basyah. Diskusi dipandu Nezar Patria, wartawan senior di Jakarta yang merupakan putra Aceh.

Berikut selengkapnya Rekomendasi Dialog Pembangunan Ekonomi Aceh Hebat Forum Silaturahmi Aceh Meusapat:

A. Merekomendasikan Forum Aceh Meusapat menjadi agenda reguler Pemerintah Aceh sebagai wadah mendiskusikan gagasan, menampung masukan dan menghubungkan kepentingan Aceh. Forum Aceh Meusapat dilaksanakan secara periodik oleh BPPA di Jakarta untuk selanjutnya diarahkan terselenggara bergilir di kabupaten/kota dalam Provinsi Aceh demi menggali potensi dan menyiapkan strategi pengembangan sektor ekonomi unggulan sesuai kawasan masing-masing. 

B. Mendukung Pemerintah Aceh menyiapkan instrumen dan kebijakan strategis untuk optimalisasi pembangunan ekonomi Aceh melalui sektor prioritas: Pertanian/Perkebunan, Perdagangan, Perikanan dan Pariwasta sebagai upaya menunjang dan memacu akselerasi 15 program unggulan Pemerintah Aceh.

C. Meminta bank-bank yang beroperasi di Aceh mengalokasikan pembiayaan maksimal pada sektor-sektor ekonomi prioritas yakni Pertanian/Perkebunan, Perdagangan, Perikanan dan Pariwisata Aceh.

D. Mengimbau pengusaha-pengusaha diaspora Aceh untuk aktif berinvestasi, membina dan mendukung terciptanya lapangan kerja kreatif dan kompetitif di Aceh.

E. Memperkuat sinergi Pemerintah Aceh, Dunia Usaha/Industri, Perguruan Tinggi dan Media dalam implementasi strategi pembangunan ekonomi Aceh Hebat yang berbasis teknologi, data, konektivitas dan kompetensi sumberdaya manusia.

F. Mendorong partisipasi media memberikan informasi mengenai Aceh yang kondusif dan fakta-fakta inspiratif terkait dunia investasi dan pembangunan ekonomi Aceh Hebat.

G. Meminta Pemerintah Aceh untuk membuka Bank Aceh Cabang Jakarta dan mendorong warga Aceh diaspora berpartisipasi dengan membuka rekening dan bertransaksi melalui Bank Aceh Cabang Jakarta.(portalsatu.com)

Komentar

Loading...