KISAH UMAR DAN LILIN NEGARA

CD6EF45C-1008-4FF6-91C6-A4D0AA16DAC0

TOSKOMI- Umar bin Abdul Azis merupakan khalifah yang memimpin umat Islam selepas masa Khulafaur Rasyidin. Kepemimpinanya dikenang umat karena pandangan anti korupsinya walaupun masanya singkat.

Suatu ketika datanglah seorang utusan dari salah satu daerah. Utusan tersebut tiba di kediaman Umar bin Abdul Aziz ketika malam menjelang. Meskipun sudah malam, Umar tetap menemui utusan tersebut. Utusan itu pun masuk dan Umar bin Abdul Aziz memerintahkan pelayan untuk menyalakan lilin sebagai penerangan. 

Umar bertanya kepada utusan tersebut tentang segala hal yang berkaitan dengan keadaan rakyat dan penguasa di daerahnya. Utusan itu pun menyampaikan segala yang diketahuinya tentang keadaan rakyat kepada Umar bin Abdul Aziz. Tidak ada sesuatu pun yang dia sembunyikan.

Selanjutnya, utusan itu bertanya kepada Umar bin Abdul Aziz tentang keadaan diri dan keluarganya.

Tiba-tiba Umar bin Abdul Aziz meniup lilin dan menyuruh pelayan untuk menyalakan lilin kecil. Cahaya dari lilin tersebut tidak bisa menerangi ruangan karena cahayanya yang lemah. Umar bin Abdul Aziz pun mempersilakan utusan tersebut untuk bertanya tentang diri dan keluarga beliau.

Rupanya utusan itu tertarik dengan perbuatan Umar bin Abdul Aziz yang mematikan Iilin. Utusan tersebut bertanya tentang sikap Umar yang mematikan lilin. Umar pun menjelaskan bahwa lilin yang beliau matikan adalah harta Allah dan kaum muslimin atau milik negara.

Ketika utusan tersebut bertanya tentang urusan negara dan urusan rakyat, lilin itu dinyalakan. Begitu pembicaraan berbelok tentang keluarga dan keadaan pribadi, Umar pun mematikan lilin milik kaum muslimin tersebut. Umar tidak ingin menjadi pemimpin yang menyalahgunakan amanah dan kepercayaan rakyat.

Kemudian dalam waktu berbeda pasa Suatu malam, Umar bin Abdul Aziz terlihat sibuk merampungkan sejumlah tugas di ruang kerja istananya. Tak dinyana, putranya masuk ruangan dan hendak membericarakan sesuatu.

”Untuk urusan apa putraku datang ke sini: urusan negarakah atau keluargakah?” tanya Umar.

”Urusan keluarga, ayahanda,” jawab si anak.

Tiba-tiba Umar mematikan lampu penerang di atas mejanya. Seketika suasana menjadi gelap.

”Kenapa ayah memadamkan lampu itu?” tanya putranya merasa heran.

”Putraku, lampu yang sedang ayah pakai bekerja ini milik negara. Minyak yang digunakan juga dibeli dengan uang negara. Sementara perkara yang akan kita bahas adalah urusan keluarga,” jelas Umar.

Umar kemudian meminta pembantunya mengambil lampu dari ruang dalam.

"Nah, sekarang lampu yang kita nyalakan ini adalah milik keluarga kita. Minyaknya pun dibeli dengan uang kita sendiri. Silakan putraku memulai pembicaraan dengan ayah."Suatu malam, Umar bin Abdul Aziz terlihat sibuk merampungkan sejumlah tugas di ruang kerja istananya. Tak dinyana, putranya masuk ruangan dan hendak membericarakan sesuatu. 

Sepenggal cerita tersebut patut dicontoh bagi kita apalagi bagi pemimpin-pemimpin negeri ini. [Rm]

Komentar

Loading...