Sejak 2.500 Tahun Lalu Manusia Telah Isap Ganja, A Kune Gaes….?

Operasi Ladang Ganja, Ganja Naik Daun Investor Incar Asia Tenggara

TOSKOMI.COM || Sebuah penemuan terbaru menunjukkan bahwa perilaku merokok ganja telah ada sejak ribuan tahun lalu. Temuan ini didapatkan dari penggalian sebuah situs makam China kuno berusia 2.500 tahun. Dalam makam kuno itu, para ilmuwan menemukan jejak tetrahydrocannabinol (THC), sebuah bahan kimia psikoaktif pada ganja.

Jejak ini ditemukan dalam
pembakar dupa kayu di pemakaman Jirzankal di Pegunungan Pamir dekat Himalaya.
Para peneliti menyebut, hal ini kemungkinan digunakan oleh para peziarah untuk
"berkomunikasi" dengan Dewa atau arwah leluhur. Pada laporan di
jurnal Science Advances, mereka menyebut bahwa dupa pembakaran ini merupakan
bukti pertama penggunaan ganja untuk rekreasi.

Tak hanya pada salah satu
guci pembakaran saja, jejak THC ditemukan di 10 pembakar kayu dalam 8 makam di
kompleks pemakaman itu. Sebagai informasi, makam-makam itu berada di dalam
gundukan bundar dengan cincin batu dan pola bergaris dibuat menggunakan batu
hitam dan putih di atasnya. Uniknya, jejak THC yang ditemukan pada makam kuno
ini tak biasa. Mereka memiliki kandungan THC yang lebih tinggi dibanding
tanaman ganja liar. Ini berarti bahwa pada masa lalu, manusia kuno membakar
varietas ganja tertentu yang berbeda dari sekarang.

Temuan ini menguatkan
bukti penggunaan ganja di makam kuno lain di wilayah Xinjiang, China dan
pegunungan Altai, Rusia. Diperkirakan, ganja mungkin menyebar melalui rute
perdagangan Jalur Sutra. "Rute perdagangan Jalur Sutra awal lebih berfungsi
seperti jari-jari roda gerobak dibanding jalan jarak jauh, menempatkan Asia
tengah di jantung dunia kuno," ungkap Robert Spengler, pemimpin
arkeobotanis dalam penelitian ini dikutip dari The Independent, Kamis
(13/06/2019).

"Studi kami
menyiratkan bahwa pengetahuan tentang merokok ganja dan varietas penghasil
bahan kimia tertentu yang tinggi dari tanaman itu tersebar di antara tradisi
budaya yang menyebar di sepanjang rute perdagangan ini," sambungnya.

THC pada pot pembakaran
dupa itu ditemukan setelah para ilmuean mengekstraksi bahan korganik dari
serpihan kayu. Setelah menganalisisnya menggunakan kromatografi
gas-spektrometri massa. Sayangnya, masih belum jelas apakah orang yang tinggal
di sekitar pemakaman di masa lalu secara aktif menanam ganja atau hanya mencari
tanaman penghasil THC yang tinggi saja.

"Studi tentang
penggunaan kanabis kuno ini membantu kita memahami praktik budaya manusia
purba, dan berbicara tentang kesadaran manusia yang intuitif tentang fitokimia
alami dalam tanaman," ujar Profesor Yang Yimin, analisis utama penelitian
ini.

Ganja sendiri diketahui
telah dibudidayakan di Asia Timur untuk minyak biji dan seratnya sejak tahun
4000 sebelum masehi (SM). Tapi, tidak banyak diketahui bagaimana orang mulai
menanam tanaman ini untuk sifat psikoaktifnya. Dr Spengler menambahkan,

"Perspektif modern
tentang ganja sangat bervariasi lintas budaya, tetapi jelas bahwa tanaman
memiliki sejarah panjang penggunaan manusia, medis, ritual, dan rekreasi,
selama ribuan tahun yang tak terhitung jumlahnya." (sains.kompas.com)

Komentar

Loading...