Hikayat Ramadan : Bahaya Ulama Hipokrit dan Kemunafikan yang Kerap Menipu Umat

kemunafikan--hikayat--sabit

TOSKOMI.COM || Burung jantan berkata kepada sang Betina, “Kita harus beranjak. Lelaki itu pasti akan memburu kita.” Sang betina bergeming. Ia sesekali masih tetap berceloteh dan bercericit. “Ia bukan pemburu. Ia adalah seorang ulama. Tampaknya ia akan berangkat mengajar ilmu agama,” demikian sang betina menampik. Sang jantan mengalah dan memutuskan percaya pada argumen sang betina.

Keduanya melanjutkan celotehan yang sebelumnya tertunda. Sial
nasib, tiba-tiba sebuah pukulan keras menghantam batok kepala burung betina.
Tampaknya pukulan itu berasal dari tongkat yang dipegang lelaki berjubah. Sang
betina sekarat meregang nyawa. Beberapa detik sebelum ia mengembuskan napas
terakhirnya, lelaki berjubah itu mengeluarkan sebilah pisau dari balik jubah.
Ia menyembelih, membersihkan bulu-bulu, dan memanggang burung betina itu.
Magrib itu, lelaki berjubah berbuka puasa dengan menu burung panggang. Dari
kejauhan, sang burung jantan hanya bisa menonton tanpa bisa berbuat banyak
untuk menyelamatkan kekasih hatinya. Ia berduka sedalam-dalamnya.

“Manusia memang tidak pernah jujur, bahkan kepada dirinya
sendiri. Bukankah ia sedang berpuasa? Mengapa ia menipu kami dengan tampilan
agamawan, namun hatinya tak ubahnya pemburu yang bengis dan kejam?” Kalimat
aduhan tersebut disampaikan pada Nabi Sulaiman. Kepada Nabi yang dianugerahi
nikmat mampu bercakap cakap dengan hewan itu, sang burung jantan menumpahkan
keluh kesah atas kecurangan dan kejahatan yang menimpa keluarganya. Nabi
Sulaiman segera memanggil lelaki berjubah itu beberapa hari kemudian.

“Apakah benar kau membunuh seekor burung beberapa waktu lalu
dan memakannya untuk berbuka puasa?” tanya Nabi Sulaiman pada lelaki berjubah.
“Daulat, Baginda.” “Kau boleh berburu tapi berperilakulah yang jujur. Jangan
menjadi penipu. Kau kenakan pakaian kebesaran agamawan, berjubah, bergamis,
sehingga tak satupun hewan-hewan menaruh curiga kepadamu. Namun, nyatanya
justru dengan tongkatmu kau melukai, membunuh, dan menyantap mereka? Yang kau
lakukan tidak lain adalah penipuan dan kebohongan.” Lelaki berjubah itu
menangis sejadi-jadinya. Ia bersimpuh menyesali perbuatannya.

Ia tidak menyangka bahwa perilakunya yang terlihat sepele itu
mengandung dosa yang demikian besar di mata Tuhan. Kejujuran adalah nilai yang
hendak ditanamkan oleh Nabi Sulaiman kepada lelaki berjubah itu. Betapa
kejujuran menjadi barang yang teramat mahal. Kesesuaian antara performa lahir
dengan apa yang ada di dalam batin menjadi kunci dan moral cerita di atas.

Bahaya Ulama Munafik Tidak kalah pentingnya, para ulama
terdahulu mewanti-wanti agar umat manusia tidak terkecoh dengan
identifikasi-identifikasi dan pemahaman yang keliru. Contohnya yang menyangkut
kejujuran, banyak dikisahkan bahwa umumnya pendapat menyatakan musuh utama
kejujuran adalah kebohongan. Pendapat demikian dibantah para ulama dan pakar
akhlak. Sebab yang menjadi musuh utama kejujuran adalah kepura-puraan. Dalam
terminologi agama disebut dengan kemunafikan atau munafik. Istilah yang lebih
baru yang diserap dari bahasa Inggris adalah hipokrit.

Munafik adalah kondisi ketika seseorang menampakkan sesuatu
yang berlawanan dengan keadaan batinnya. Dalam Bahasa agama disebut
"yuzhiru khilāfa ma yubthinu" (menampakkan apa yang tidak sesuai
dengan kondisi sejatinya). Sufi besar Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa tabiat
orang munafik itu selalu berbeda antara lisan dengan kata hati. Apa yang
tersembunyi dengan yang ditampakkan bersifat kontradiktif, dan berbeda antara
yang masuk dengan yang keluar. Artinya jika berkabar, ia pasti membual-bual.

Sadar akan kadar bahaya yang disebabkan wabah kemunafikan
ini, Rasulullah memberikan minimal empat ciri munafik tulen. Ciri pertama, jika
diberi amanat, ia akan mengkhianati. Kedua, jika berbicara, ia berdusta.
Ketiga, jika berjanji, ia pasti mengingkari. Keempat, jika ia berselisih paham,
maka ia tidak segan-segan akan berbuat zalim. Sahabat Umat bin Khattab sekali
waktu berkhotbah dengan sangat lantang di atas mimbar:

 “yang aku khawatirkan
terjadi dan menimpa kalian adalah munculnya orang-orang berilmu yang munafik.”
Siapakah yang dimaksud Umar? Dalam kitab Jāmiul Ulūm wal Hikam disebutkan bahwa
mereka mereka adalah orang-orang yang perkataannya penuh hikmah, namun tingkah
polahnya sarat kemungkaran. Orang yang munafik canggih merekayasa umat. Dengan
modal pemahaman keagamaan, mereka sering kali menipu orang banyak. Ulama
seperti inilah yang diramalkan Umar bin Khattab banyak lahir di akhir zaman.

Umar melukiskan dengan kalimat “khusū’un nifaq an taral
jasada khāsian, wal qalbu laisa bikhāsi’in” (fisiknya tampak khusyuk sekali,
namun tidak dengan hatinya). Sebuah hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik
menarik untuk direnungkan: betapa wabah kemunafikan sudah sedemikian akut dan
merajalela. Rasulullah bersabda, “Akan datang suatu masa ketika orang kaya naik
haji hanya untuk pelesiran, orang kelas menengah pergi haji untuk berdagang,
para pengkaji Alquran berangkat haji untuk pamer serta meningkatkan reputasi
nama baik, dan orang miskin naik haji untuk mengemis.” ==========

Sepanjang Ramadan, redaksi menampilkan artikel-artikel
tentang kisah hikmah yang diangkat dari dunia pesantren dan tradisi Islam.
Artikel-artikel tersebut ditayangkan dalam rubrik "Hikayat Ramadan".
Rubrik ini diampu selama sebulan penuh oleh Fariz Alnizar, pengajar Universitas
Nahdlatul Ulama Indonesia dan kandidat doktor linguistik UGM. (Tirto.id)

Komentar

Loading...