Kadis Sosial Aceh Alhudri : Pernah Di Telpon Irwandi Ditayai Proyek PL

20181020_225320

TOSKOMI.COM || JAKARTA (20/10) Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memutar rekaman pembicaraan antara Gubernur Aceh nonaktif, Irwandi Yusufdengan Kepala Dinas Sosial Aceh, Drs Alhudri MM. Dalam rekaman itu Irwandi menanyakan apakah masih ada proyek PL (penunjukan langsung) karena ada relawannya yang belum mendapat paket pekerjaan.

Rekaman pembicaraan itu diputar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (18/10), saat Hendri Yuzal, ajudan Gubernur Irwandi, memberi kesaksian dalam kasus penyuapan yang dilakukan Bupati Bener Meriah nonaktif, Ahmadi SE.

Irwandi melakukan komunikasi dengan Kepala Dinas Sosial Aceh itu menggunakan telepon genggam milik Hendri Yuzal.

Kadis Sosial Alhudri yang juga menjadi saksi dalam persidangan tersebut mengakui adanya telepon dari Gubernur Irwandi.

Saksi lainnya,Ir Fajri MT, Kadis Pekerjaan Umum dan Perumaham Rakyat (PUPR) Aceh di hadapan majelis juga mengaku pernah mendapat telepon dari Gubernur Irwandi untuk memberikan bantuan kepada tim Stefy yang sedang berada di Nagoya, Jepang.

Ir Fajri akhirnya mengirimkan uang Rp 25 juta dari Rp 50 juta yang diminta. “Tim Steffy kehabisan uang di Jepang,” ujar Fajri saat ditanya jaksa tentang alasannya mengirimkan uang tersebut.

Uang dikirim ke rekening PT Erol (PT Erol Perkasa Mandiri) yang nomor rekeningnya dikirimkan oleh Teuku Saiful Bahri, orang dekat Gubernur Irwandi Yusuf.

Ir Fajri yang juga mantan pelaksana tugas (plt) kepala Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) dalam kesempatan terpisah juga mengirimkan uang Rp 10 juta atas permintaan Teuku Saiful Bahri. “Tapi pengiriman yang 10 juta tidak ada telepon dari gubernnur,” ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, persidangan juga mendengarkan kesaksian Darmansyah, Kadis Pemuda dan Olahraga (Dispora) Aceh, Dailami (orang dekat Bupati Ahmadi), dan Alpin, sopir Bupati Ahmadi.

Hendri Yuzal membantah pernah minta uang kepada Bupati Ahmadi melalui ajudan bupati, Muyassir. “Saya hanya tahu setelah dilaporkan Muyassir bahwa ada permintaan uang kepada Saiful Bahri,” ujar Hendri.

Kadispora Darmansyah mengatakan, ia juga sering didatangi relawan Irwandi untuk diberikan proyek. Tapi Darmansyah tak pernah mendapat telepon permintaan dari Gubernur Irwandi untuk membantu relawan yang membantunya saat mencalon jadi gubernur pada Pilkada Aceh 2016. “Saya tidak berikan, karena tak ada telepon dari gubernur,” ujar Darmansyah saat ditanya jaksa apakah ia meluluskan permintaan relawan tersebut.

Terkait program Aceh Marathon yang sedianya digelar di Kota Sabang, September lalu, Darmansyah mengatakan diusulkan melalui program Dispora.

Antar uang
Saksi Dailami, pengusaha Bener Meriah yang dikenal sebagai orang dekat Bupati Ahmadi mengatakan, atas perintah bupati ia mengantarkan uang ke Banda Aceh Rp 800 juta. Dilakukan dalam dua kali pengantaran. Pertama Rp 300 juta, kedua Rp 500 juta.

“Yang 300 juta diserahkan di Hotel Medan, sedangkan yang 500 juta rupiah diserahkan di Hotel Hermes Banda Aceh,” ujar Dailami.

Ia menyerahkan uang tersebut kepada Muyassir. “Saya tidak tahu kepada siapa uang itu kemudian diserahkan Muyassir. Katanya, kepada Saiful Bahri. Tapi saya tidak kenal Saiful Bahri,” ujar Dailami.

Disebutkan uang Rp 300 juta itu dikumpulkan Dailami dari sejumlah pengusaha di Bener Meriah. Ada yang menyumbang Rp 20 juta, Rp 25 juta, dan Rp 50 juta.

Pengusaha yang dimintai sumbangan adalah pengusaha yang diusulkan untuk mendapatkan proyek pekerjaan dari Dana Alokasi Khusus Aceh atau DOKA. Kata Dailami, Muyassir minta dikirimkan uang 1,5 miliar, berdasarkan pesan dari Hendri Yuzal. (Aceh.tribunnews)

Komentar

Loading...