Harga Alpukat Di Gayo Masih Fluktuatif

Para Penjual Pokat

TOSKOMI.COM|| Takengon (3/5). Harga Komuditas pertanian Alpukat masih cenderung kurang stabil (fluktuatif). Hal ini disampaikan Adi, salah satu pedagang Alpukat di Kawasan Paya Ilang Kota Takengon Kabupaten Aceh Tengah.

Menurut adi, saat ini dirinya dan beberapa pedangan menjual dengan harga 5 sampai dengan 6 ribu rupiah. Sedangkan menurut Adi, dihari-hari lainya terkadang dirinya sempat menjual dengan harga sampai dengan belasan ribu rupiah.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan harga alpukat fluktuatif menurut adi. Diantaranya naik-turunya permintaan.

“Waktu musim panen terjadi, Alpukat di gayo sudah dikontrak oleh Toke-toke besar sehingga barang (alpukat-red) menjadi langka sehingga harga tentu akan melambung tinggi”. Ujar Adi.

Menurut Adi, Pengumpul besar menjual Alpukat di Gayo untuk kebutuhan kosmetik. Sedangkan menurutnya, yang mereka beli dan ecerkan kepada masyarakat untuk kebutuhan konsumtif baik itu kosumsi lokal, maupun oleh-oleh untuk dibawa keluar daerah.

Dalam Kesempatan lainya Murtadha SE, M.Si dimintai keterangan menyangkut persoalan ini. Menurut Murtadha, fenomena ini masih dalam kondisi yang sangat wajar.

“kalau harganya 3 Ribu perkilogram baru dikatagorikan rendah” ujar Murtadha.

Menurut Murtadha segmen pasar dari Alpukat Gayo yang harus dikembangkan. Sehingga permintaan mengenai Alpukat Gayo yang memiliki cita rasa dan mutu yang sangat baik ini juga menjadi tinggi, sehingga hal ini berdampak baik bagi masyarakat Aceh Tengah khususnya Petani Alpukat.

Saat ini menurut Murtadha, penanaman Alpukat belum terlalu masif. Alpukat masih menjadi tanaman tumpang sari dari tanaman kopi. Padahal Alpukat merupakan komuditas yang unggul apabila dikembangkan di bumi Gayo yang notabenya memiliki lahan yang cocok untuk ditanami Alpukat.

“Ada istilah Lagu nimang atu (seperti menimbang batu- red) saat panen Alpukat terjadi”  Sebut Murtadha. Hal itu menggambarkan bagaimana Alpukat sangat menjanjikan. 1 Kg Alpukat itu dihasilkan dari 1 sampai dengan 2 Buah saja. Sedangkan perawatan tanaman tersebut tergolong tidak terlalu rumit.

Pemkab Aceh Tengah dan juga Bener Meriah harus melakukan sosialisasi kepada masyarakat sehingga penanaman Alpukat ini menjadi masif sehinga petani memiliki komuditas alternatif selain kopi arabika tutupnya.(Z80)

 

 

Komentar

Loading...