Hendrika Fauzi : Petani Gayo Itu Harus Sarjana

IMG_3450

TOSKOMI.COM || Aceh Tengah (21/4) Profesi sebagai petani sering diidentikan dengan berpendidikan rendah, kumuh, miskin dan merupakan profesi orang tua serta jauh dari kata sejahtera, profesi sebagai petani dianggap sebagai profesi pilihan terakhir, teringat ketika waktu seorang guru di Sekolah Dasar menanyakan prihal cita-cita kami sebagai muridnya dari 29 anak murid including me tak seorang pun memilih cita-cita sebagai petani, ya kebanyakan ingin menjadi guru, tentara, polisi, doctor, presiden dan lain-lain.

Posisi Indonesia sebagai daerah agraris yang potensi terbesarnya terletak pada bidang pertanian membuat satu keunggulan tersendiri jika di bandingkan dgn Negara lain memiliki iklim tropis dengan dua musim sehingga berbagai jenis tanaman tumbuh subur di Negara lintasan garis khatulistiwa ini dengan luas lahan mencapai 39,5 juta Ha dapat diartikan bahwa petani lah sebagai penyumbang pendapatan Negara yang menjanjikan yang mendudkung sektor lainya.

Menurut survei struktur ongkos usaha tani tanaman pangan (SOUTTP) menunjukan bahwa jenjang pendidikan petani Indonesia 32,66 % tak tamat Sekolah Dasar, 42,32% hanya tamat SD dan 14,55% hanya tamat SLTP, dari data tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa banyak sarjanawan-sarjanawati tak memilih profesi sebagai petani ntah itu di Hortikultura, Perternakan maupun Perkebunan.

Petani yang memiliki jenjang pendidikan rendah cendrung kurang menerima, mencari hal-hal baru sebagai inovasi terbaru guna menunjang profesinya sebagai petani, tidak semua tapi kebanyakan seperti itu, yang berakibat hanya sebagai petani turun temurun dengan mengandalkan ilmu seandanya dari nenek moyang dan juga agak terlambatnya terserap imformasi-imformasi baru sudah barang pasti hasilnya juga itu-itu saja.

Lalu kenapa harus sarjana??

Mengenyam pendidikan selama 4-5 tahun di kampus sejatinya seorang sarjana sudah memiliki bidang ke ilmuan yang mumpuni dan pengalaman yang kita anggap matang, baik dari segi disiplin ilmunya maupun dari sisi penguasaan teknologinya, hari ini kita melihat dimana mahasiswa/i identik dengan kemajuan technologi, yah jika mahasiswa tak punya android, laptop, gadget dan lain-lain di anggap gaptek apalagi saat ini pengisian KRS sudah system online, kemudian sudah pasti seorang mahasiswa punya banyak kawan yaa paling tidak kawan-kawan bisa sebagai teman selfi artinya sudah ada akses mendapatkan imformasi baru ketika sudah sarjana.

Di kampus manapun mahasiwa sudah di tuntut untuk membuat skripsi sebagai tulisan akhir dan selesai tepat waktu jika tidak akan di keluarkan alias di DO, sebagai mahasiswa yang merantau dari daerah jauh kita di tuntut sudah bisa mandiri karna ngekos atau ngontrak yaa minimal udah bisa ngatur keuangan sendiri meskipun sumbernya masih dari orang tua.

Dan yang lebih penting seseorang jika sudah pernah merasakan menjadi seorang mahasiswa kita juga diajarkan tepat waktu alias disiplin agar cepat menjadi sarjana, serta nah ini yang tidak ada di Sekolah Dasar, SMP maupun di SMA jika ada excercise alias tugas baik itu tugas individu maupun kelompok jika mau di selesaikan maka akan dapat nilai dan dapat di pastikan selesai mata kulyah tersbt jika tidak biasanya dosen tidak akan menegur kosekuensinya kita akan ketinggalan pada semester tersbt terpaksa ngulang lagi di tahun depan dgn mata kuliah yang sama begitu juga dengan ujian atau final dan exam.

Nah jika semua hal tersebut sudah pernah dirasakan ketika menjadi mahasiswa dan menjadikan itu sebagai modal untuk memanagement kebun jika seorang sarjana memilih profesi sebagai petani, technologi OK segala bentuk kegiatan usaha taninya di tabulasi kedalam sofwere kapan ditanam, kapan berproduksi serta update imformasi harga serta dapat mempromosikan produk hasil kebunya sendiri, mengatur keuangan sudah bisa disiplin merawat kebun OK lah. Dan yang paling penting adalah ketika seorang sarjana malu jika hasil kebunya sama dengan petani yang tidak berpendidikan apalagi hasilnya jauh lebih rendah tak bisa ku bayangkan sanksi sosialnya.

Oleh sebab itu Indonesia harus bertekad membuat gerakan Petani Muda Indonesia yang tentunya semua adalah lulusan sarjana-sarjana terbaik dari perguruan tinggi tanah air. (Penulis : HENDRIKA FAUZI )

Komentar

Loading...