PILKADA Mahasiswa Disinyalir Ada Kecurangan, KIPM STAIN GP Main Mata

IMG_9887

TOSKOMI.COM || Aceh Tengah (05/01) Pemilihan Raya (PEMIRA) STAIN Gajah Putih Takengon munai kecaman dan protes Karena Diduga KIPM Dan pasangan nomor urut dua melakukan kecurangan.

Pelaksanaan PEMIRA pada Kamis sore tanggal 05 Januari 2017 yang telah selesai dilaksanakan pada hari rabu kemarin di warnai aksi penolakan karena hasil pemilihan Dewan Eksekutif Mahasiswa STAIN GP dianggap cacat prosedur adapun calon kandidat Nomor urut satu Pasangan Asrul Amin dan Hermawati, Calon nomor urut dua

Menurut Deki selaku ketua tim pemenangan kandidat Nomor urut satu, aksi yang mereka lakukan adalah menuntut keadilan kepada KIPM selaku panitia penyelenggara PEMIRA.
“Kami menuntut KIPM agar dapat menegakan keadilan, kami melihat disini ada kecurangan baik dalam pelaksanaan sampai penghitungan suara. Kami berharap dan mendesak KIPM melaksanakan pemilihan ulang terkait hal tersebut” Ujar Deki.

Mereka juga menuntut ketua KIPM Said Mahbengi agar mengundurkan diri dari ketua KIPM Karena Diduga kuat tidak menerapkan Azas keadilan Dan cenderung perpihak hal Ini bisa di Buktikan dari hasil pemungutan suara yang mana seharusnya setelah pencoblosan Kertas suara di masing masing ruangan harus saat Itu pula di hitung Tapi kenyataanya tidak demikian Sehingga Ini juga sudah melanggar kesepakatan yang telah di musyawarahkan oleh seluruh panitia “KIPM”.

Dan bentuk kecurangan lainya Adalah KIPM memaksakan kehendak untuk memuluskan pasangan nomor urut 2, Ini juga bisa dibuktikan Dari Jumlah Mahasiswi STAIN GP yang aktif senbanyak 6000 Mahasiswa namun pada saat pemilihan suara yang memilih hanya 600 suara Sehingga Ini tidak memenuhi syarat pemilihan Dengan artian Harus dilakukan pemilihan ulang.

Dan kecurangan lainya Sebagaimana di ketahui Bahwa dari penghitungan surat suara yang dilaksanakan pada rabu malam, terdapat kertas suara lebih di TPS 2. Yang mana awal perhitungan kertas suara sebelum di buka berjumlah 222 buah namun setelah perhitungan kertas suara dibuka menjadi 223 buah dan hal ini bertentangan dengan para saksi kandidat nomor urut satu dan dua.

Saksi dari masing masing kandidat Serta jajaran KIPM GP melakukan musyawarah namun menuai kebuntuan Sehingga Dan tidak mendapatkan hasil yang memuaskan yang akhirnya saksi dan kandidat nomor urut satu meninggalkan tempat pemungutan surat suara. (A26)

Komentar

Loading...